Elang

image

Kali ini aku ingin bercerita mengenai seorang pria yang telah membuatku terkagum-kagum, kawan. Matanya gelap, persis mata elang–tanpa campur tangan maskara yang dikenakan para artis. Tubuhnya tidak proposional, pendek dan sedikit berisi. Berambut ikal yang terlihat keras dibalik balutan topi yang hampir tidak pernah absen menutupi kepalanya. Selalu mengenakan sarung atau jeans selutut. Bibirnya hitam, perokok aktif yang jarang ku lihat merokok. Panggil saja dia Elang. Ya, dia memang Elang.

Awalnya, dialah yang paling ku takuti diantara para pria di camp sebelah. Matanya yang sinis dan gelap itu selalu menerkaku hingga bisa membuatku mengayuh sepeda dengan terbirit-birit. Aku terlalu takut berada di luar camp, aku terlalu takut mengobrol dengan anak asrama pria, dan ketakutanku hanyalah karena dia.

Mata Elang itu menghipnotisku untuk tidak mendekatinya, hingga sahabatku datang berkunjung. Kedua sahabatku itu adalah pria dan mereka membuat hatiku melemah untuk memberanikan diri berbicara dengan anak camp sebelah. Tiap hari pun aku menghabiskan waktu dengan bersepeda mengitari English Village bersama kedua sahabat dan seorang kawan baru–aku tidak takut lagi berada di luar karena kehadiran mereka. Ketika beristirahat di dekat camp, Elang menghampiri kami dan memulai obrolan basa-basi.

Aku–dengan menyembunyikan rasa takut–mengobrol dengan santai dengannya, bebicara mengenai buku. Ternyata kami memiliki passion yang sama mengenai membaca. Tapi obrolan hari itu berakhir begitu saja, tanpa kesan berarti.

Hari lain akhirnya tiba, ketika sahabat-sahabatku harus kembali ke tanah perantauan mereka yang utama. Malam yang mencekam itu ku habiskan di luar camp, menunggu mobil travel yang tak kunjung tiba. Entah sengaja atau tidak, beberapa anak camp sebelah masih awet mengobrol di warung yang telah tertutup di dekat kami–seakan menjagaku, ikut menunggu travel malam itu. Di tengah obrolan, Elang datang menghampiri dan obrolan pun dimulai dengan khidmat.

Banyak hal yang ku tangkap mengenainya. Dia bukan macam orang yang sinis rupanya, karakternya sangat berbeda dengan ekspetasiku sebelumnya. Sudut pandangku padanya pun berubah 360 derajat. Dia menjadi salah seorang yang selalu ku cari di kala waktu senggang. Obrolan bersamanya menjadi salah satu hal yang ku rindukan di setiap waktu. Ilmu-ilmunya mengenai segala hal menjadi sumber wawasanku yang selalu haus akan pengetahuan.

Aku senang saat bisa meminjamkan bukuku padanya, buku filosofi yang ku beli secara acak. Karena tidak tahu ilmu filosofi, aku memintanya menjelaskan isi buku itu. Ya, aku tidak pernah membaca buku filosofi itu hingga halaman utama. Kata-kata dalam buku itu tidak ada yang ku pahami. Dan dengan senang hati dia menjelaskannya padaku. Mengenai filosofer ternama dan sebagainya. Sebagai timbal balik, dia meminjamkanku sebuah buku karangan Dan Brown, pengarang The Da Vinci Code yang ku idamkan. Dengan syarat, aku harus bisa menjawab pertanyaannya kelak mengenai isi buku tersebut.

Inferno.

Neraka.

Itu judul buku yang masih ku baca hingga kini. Terhitung 2 hari sejak dia meminjamkannya padaku. Kali ini aku merasa lebih teliti dalam membaca, aku takut tidak bisa menjawab pertanyaannya kelak.

Sebagai hadiah ucapan Terima Kasihku telah mengenalnya di detik-detik keberangkatan ke Makassar, aku akan memberikannya sebuah novel dan Bookmark buatanku, plus tanda tanganku di halaman depan buku Inferno. Ya, walaupun dia memperbolehkanku meminjam bukunya hingga 2 tahun ke depan. Tidak, aku harus menyelesaikan Inferno sebelum keberangkatanku dengan harapan dapat bertemu dengannya lagi dan meminjam bukunya yang lain.

Elang. Aku akan merindukannya.

Ya, walau aku tahu umur kami hanya terpaut setahun. Di balik tingkah dan wajahnya yang jauh lebih tua dibandingkan umurnya, aku tetap akan menganggapnya sebagai Tetua. Dia salah seorang sumber ilmu terpentingku di Pare. Seorang yang akan ku rindukan kehadirannya kelak.

Elang. Aku tidak pernah lupa akan kata-katanya.

“Bukan (saya) datang terlambat, tapi kita yang hanya terlambat untuk saling mengenal.”

P.s: Aku tekejut saat tahu umurnya,yang ternyata, berbeda setahun di atasku. Ku pikir sudah 25 tahun dia berada di dunia ini. Ternyata oh ternyata. Ilmunya tidak sebanding dengan umurnya, hahahaha. Kalian, yang mungkin tahu siapa Elang yang ku maksud, pasti tertawa membaca penuturan ini. Tapi sungguh, dia membuatku terkagum-kagum dengan wawasannya yang luas, dan sifat kedewasaannya yang selalu membuatku terasa dilindungi oleh Bapak lain. Yaaaa… dia semacam orang tua angkat, mungkin. Yang tidak pernah lelah mengajariku akan banyak hal, yang tidak lelah menjelaskanku akan sesuatu, yang tidak lelah menerima jawaban polosku mengenai sebuah frase yang tersebut di dalam sebuah buku. Elang. Dia adalah salah satu saudara berharga yang pernah ku temui di sini. Kekagumanku padanya hanya bisa ku jabarkan di blog ini.

3 thoughts on “Elang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s