Ainun

image

Untuk adik kecilku, Ainun.

Terima kasih sudah membuat kakakmu ini menangis di pagi buta, bersama surat-surat berisi kenangan, cerita, dan hal-hal yang kamu perhatikan dariku. Rasa sesak di dada timbul begitu membaca serangkaian kisah awal kita jumpa. Sayangnya, kita tidak banyak berbicara di akhir waktu kemarin. Kamu beralasan tidak ingin menangis bila melihatku beranjak.

“My litta Sista!!!” Ku panggil namamu beberapa kali, tapi kamu hanya berlalu tanpa berbalik sedikit pun.

Saat itu sedih menjelajar di dada, tapi aku berusaha menutupinya dengan bercanda tawa dengan anak-anak. Surat yang kamu berikan tergeletak bersama tumbukan barang di tas carier-ku. Aku ingin membukanya segera! Buncahan itu menuntut-nuntut, tapi aku harus bertahan hingga esok pagi di Makassar.

Pagi ini pun tiba. Aku bangun dengan telatnya, menatap tumpukan novel picisan di salah satu lemari yang berada di ruang keluarga–lemari yang tidak mencakupi novel-novel itu. Hanya satu tempat untuk novelku di sana, sebuah rak kecil paling bawah. Aku teringat dengan suratmu, yang kemudian, membawaku terisak kecil di atas sofa.

Ada 5 pertanyaan yang kamu tulis di surat itu. Pertanyaan yang kali ini akan ku jawab dengan sejujur-jujurnya. Tapi, aku harap kamu tidak 100% mempercayai jawabanku. Karena semua hal itu tergantung dengan pengalaman yang kamu alami mengenainya. Semua orang punya pengalaman berbeda, nun. Kamu musti ingat itu, makanya, kita tidak boleh memaksakan pendapat kepada orang lain.

Pertanyaan pertama. Apa itu sahabat? Aku tidak terlalu tahu sebenarnya. Karena yang ku rasa hanyalah, sahabat adalah orang yang selalu bertahan di dekatku dari waktu ke waktu. Orang yang tidak pernah lari untuk memberikanku kabar atau hanya menanggapi seluruh ceritaku dengan sabar–yang juga sangat atraktif mendengarnya. Sahabat juga merupakan pendengar terbaik. Pemberi masukan terbaik, pula. Ya, itulah yang sahabatku berikan padaku, nun. Kamu ingatkan nama sahabatku?

Pertanyaan kedua. Apakah komunikasi itu sangat penting dalam persahabatan? Tentu saja, nun. Tapi dalam konteks sebenarnya, aku menemukan waktu yang sangat padat sehingga jarang berkomunikasi dengan mereka. Tetapi, sahabatku tidak pernah menuntut soal itu karena kami saling tahu satu sama lain. Tidak jarang kami putus komunikasi selama beberapa minggu. Namun, komunikasi itu tetap berlanjut bila kami memiliki waktu yang tidak mencekam. Kami bererita banyak hal kala itu dan saling mengutarakan maaf karena tidak memiliki banyak waktu. Jadi, yang lebih penting daripada komunikasi itu sendiri adalah Pengertian.

Pertanyaan ketiga. Mengapa kekuatan persahabatan itu bisa pudar saat 2 orang sahabat saling berpisah?

Tunggu….

Ainun. Apakah kamu pernah mendengar cerita mengenai kisah perjalananku dengan sahabat-sahabatku? Aku rasa, aku pernah menceritakannya. Lihat, aku sudah berpisah dengan sahabatku selama 4 tahun lebih, tetapi persahabatan kami tidak pudar sedikit pun. Malah, perpisahan itu membuat hubungan kami lebih erat. Banyak hal yang memang tidak kami lewati bersama, tapi itulah yang selalu membuat pertemuan kami berarti. Dengan terpisah, kami bisa lebih menghargai waktu kebersamaan.

Buang jauh-jauh pemikiran itu. Doktrinnya tidak mempan untuk membuat gaduh, tuh hehehe.

Pertanyaan keempat. Haruskah kita selalu mengabari sahabat kita baik lewat telepon atau media sosial lainnya? Harus tidak harus, nun. Jangan terlalu memaksakan diri untuk saling mengabari. Kita musti paham mengenai waktu kesibukan satu sama lain, dan, sahabat itu tidak boleh menuntut untuk selalu diberi kabar. Biarkan semua berjalan dengan sendirinya.

Pertanyaan kelima. Masalah kecil apa yang paling sering merusak persahabatan? Sungguh, hanya ada satu masalah dalam persahabatan, yaitu, ketidakpengertian. Salah satu pilar persahabatan yang harus kamu bangun dengan kuat adalah pengertian. Bila kamu belum siap untuk mengerti orang lain, maka, belajarlah.

Semua sudah ku jawab, kan? Puas atau tidak puas kamu bisa melayangkan opini lain untuk didiskusikan, nun. Aku tidak keberatan, karena bisa saja jawabanku ada yang sedikit melenceng. Ah… kamu membuatku rindu dengan keadaan Pare. Baru beberapa jam yang lalu aku meninggalkannya. Kangen mencubit pipimu yang chubby pula.

Sedih sekali rasanya mengingat waktu terakhir kemarin yang lebih banyak ku habiskan di kelas. Aku jadi jarang bertemu atau bercerita denganmu, nun. Padahal ada ribuan kisah yang ingin ku beritahu padamu. Tapi, pesanku, jangan sampai kehilangan fokus dan tujuan di sana. Belajarlah dengan giat! Jangan pernah merendahkan impianmu seperti kata Kak Sarah, tapi tingkatkanlah usahamu!

Semoga kita bisa bertemu di Yogyakarta kelak. Semangat!

8 thoughts on “Ainun

  1. Apa itu sahabat? Anggaplah kalau saya adalah ainun… hehehehh….
    Oia Bill.. saya ingin mengeluarkan pendapat tentang sahabat Bill…
    Perlu kamu ketahui atau mungkin kamu sudah mengetahui bahwa mencari seorang teman itu sangatlah mudah.. dimanapun kita melangkah,dimanapun kita tinggal pasti ada teman yang bisa kita temui. Tapi perlu kamu ketahui bahwa mencari sosok “SAHABAT” tidaklah semudah yang kita bayangkan, tidaklah semudah seperti memilih sebuah aksesoris di tokoh “ahh saya mau bersahabat dengan si Dia” jika kita asal memilih sahabat seperti layaknya memilih aksesoris tersebut, itu bukanlah sahabat nabila.. tetapi hanyalah sosok teman yang pergi dan datang sesukanya… dan perlu nabila tahu bahwa semenjak saya hidup di dunia ini, tidak seorangpun yang pernah saya temui yang namanya ‘SAHABAT’ menskipun saya berpendapat bahwa ” Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari pada seribu teman yang mementingkan diri sendiri.
    Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita. Ingatlah kapan terakhir kali kamu berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping kamu??. Siapa yang mengasihi kamu saat kamu merasa tidak dicintai.” Tapi kenapa sampai detik ini yang namanya sahabat itu tidak pernah datang menghampiriku..

    • Sehingga perlu abang ketahui bahwa sahabat bukan berarti hanya orang lain yang tiba2 datang ke kehidupan abang. Tetapi, keluarga, orangtua, adik atau kakak juga bisa dijadikan sahabat. Jadi sebenarnya, abang punya sahabat kok. Hanya belum menyadari semua itu

      • Ya ya yaa…. mungkin nabila bisa menyebutkan bahwa orang tua, kakak, dan adik adalah sahabat. Tpi menurut saya mereka hanyalah keluarga besar yang memiliki peran tersendiri, mereka bukanlah sahabat.

      • Ya, itu kembali ke pemikiran masing-masing. Tapi jangan terlalu keras dalam memotivasi diri bahwa tidak ada yang mendekat untuk menjadi sahabat. Perlu diketahui sahabat bukan untuk ditunggu, tapi dicari

      • Dari dulu sampai detik ini saya mencarinya nabilaa…
        Tpi ngga ketemu… –__–
        Mmmm…. atau mungkin sahabat itu ngga ada di dunia nyataa? Hanya ada dalam cerita dongeng atau semacamnya?

      • Carinya nggak betul-betul…
        Kalau bilang begitu, berarti duniaku berbeda dengan duniamu… duniaku adalah dunia dongeng, gitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s