Tersesat

Pukul 09.00 WITA. Mentari sudah menggantung di angkasa, sinarnya berpendar ke segala arah, menyaksikan kegiatan manusia yang berlalu-lalang di atas bumi. Tapi mentari tidak dapat melihatku pagi ini. Ya, aku bersembunyi di dalam rumah. Bersembunyi di dalam kamar kakak yang disinari lampu putih. Di sini, aku terdiam. Menatap sampul-sampul usang beberapa album foto.

Satu album ku pilih. Albumnya berwarna biru dan putih, bercorak kemeja kotak-kotak dengan gambar tunggal Cinderella di sampul depan. Aku selalu mengingatnya sebagai album fotoku. Mengapa? Karena kebanyakan berisi fotoku, dimulai sejak bayi hingga ABG. Mama yang menyusunnya untukku, katanya memang khusus buatku.

Perlahan aku membuka lembar-lembar album. Semuanya berubah. Isi foto sudah tercemar dengan foto orang lain; kakak, adik, dan foto lawas mama. Foto-fotoku sendiri ku dapati di bagian tengah album. Aku tidak begitu fokus melihat foto lain, selain fotoku. Dimulai sejak aku dikaitkan di sebuah kain yang tergantung di depan dapur. Aku lupa namanya, tapi itu sebuah adat Banjar untuk anak bayi seusiaku. Kemudian, saat masih tengkurap. Foto-foto mandi. Hingga ku temukan fotoku saat berusia 5 tahun.

Di sana, rambutku pendek melewati telinga. Pipiku tembem diikuti postur tubuh yang bondeng alias gemuk. Senyumku terkesan malu-malu. Sedangkan, kedua tanganku memegang lego. Baju yang ku kenakan agak pas, berwarna kuning merah. Baju yang sama dikenakan kakakku yang menghiasi background. Dia sedang menonton TV–mungkin film India. Ada sedikit memori di sana. Kala itu orangtuaku terus menyebutkan kata bondeng yang berarti gemuk dalam Bahasa Makassar. Sebenarnya tidak bermaksud buruk, tapi aku ngambek dan mencoba untuk tidak makan terlalu banyak.

Foto itu membuka memori lain. Ku telusuri setiap foto pada waktu yang sama. Banyak ku temukan foto yang terlihat menyenangkan, senyumku tidak pernah surut. Dimulai senyum malu-malu hingga senyum lebar–tak peduli dengan gigi yang ompong. Ah… rasa malu tiba-tiba menusuk dada. Lama sekali aku tidak tersenyum selebar dan semenyenangkan itu. Seakan aku tengah memeluk dunia dan melupakan dunia nyata. Ya, aku pikir, saat itu jiwaku berada di dunia imajinasi. Jiwa yang tidak pernah takut untuk bermimpi setinggi mungkin.

Ku tekan-tekan kedua sisi bibirku. Ayo tersenyum! Dadaku bergerumuh. Tapi dia hanya melebar sekian centi, lalu surut dalam hitungan detik.

Aku teringat sebuah quote yang dulu ku puja-puja. Act like a kid will make you success. Hingga saat ini aku masih memujanya, memang. Hanya saja hawanya berbeda. Sejak membodohi diri dengan Bahasa Inggris di Pare, aku menghadapi sebuah kenyataan. Aku dipaksa berpikir logis, melupakan imajinasi, dan bertindak sok bijaksana di antara anak camp. Ku sadari bahwa hal-hal itu seakan membodohiku, membohongi diri sendiri. Aku tidak pernah ingin berpikir seperti itu.

Aku hanya ingin imajinasiku.

Selimut kegelapan seakan menelanku, membawaku ke sebuah hutan gelap yang tidak ada indahnya. Tumbuhan yang mati, pohon yang kering. Seperti hutan kegelapan dalam film Alice in the Wonderland. Pintaan kebebasan terus berteriak meminta pertolongan. Sedangkan aku masih tersesat di dalamnya. Tidak bisa membantu. Aku sendiri ingin bebas.

Dapatkah aku bebas? Kembali ke dunia imaji yang begitu kaya akan kebahagiaan. Entahlah.

2 thoughts on “Tersesat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s