Hantam 1

image

Umpama diri yang tersesat di angkasa

Sebuah obrolan baru saja menohok hati ini. Beberapa menit yang lalu di rumah salah seorang ibuku (sebutan bagi adik mama). Kami bercerita mengenai dunia perantauan dan perencanaanku tahun ini di Yogya.

Sempat disesalkan bahwa aku tidak mengambil kesempatan untuk mengajar di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris di Makassar karena waktu yang tidak memungkinkan. Ya, aku memang hanya berencana tinggal di Makassar selama sebulan lebih. Bulan April sudah ditembak sebagai bulan penuh perjalanan ke ranah Yogya. Dan, keluargaku menyesalkan hal itu. Sedikit menghasut untuk merubah rencana.

Ibuku berkata, mungkin saja rezekiku ada di sini. Jadi, mengapa aku tak mengambilnya? Dan menyia-nyiakannya demi perencanaan yang belum tentu ditahu hasilnya.

Aku tidak bisa menjawab. Tapi hatiku memberontak, tidak ingin melanjutkan obrolan yang begitu menusuk hati. Pelupuk mata terasa panas, begitu pun dada. Untungnya aku bukan tipe orang yang langsung berontak, aku bertahan mendengar nasihat beliau. Rasa sakit itu ku halau sebisanya.

Mimpi kamu terlalu tinggi. Kamu berkhayal terlalu tinggi.

Sudah ribuan kali ku dengar kalimat macam itu sejak ku ikrarkan cita-citaku sebagai penjelajah. Tapi hatiku terbuat dari baja, sehingga sebisanya ku halau kalimat itu dengan ungkapan positif untuk bisa membuktikan diri kelak. Memang tidak sekarang, tapi aku percaya di depan sana aku berdiri di podium utama, berkoar, memberikan motivasi pada orang-orang untuk selalu bermimpi setinggi langit.

Apa yang salah? Apa hanya karena realita terlalu menakutkan untuk membuat tubuh bangun dari keterpurukan?

Memang benar aku belum melihat realita secara gamblang. Belum tahu apa yang akan menimpaku di depan sana. Yang jelas, yang selalu ku pegang teguh dalam meraih mimpi ialah Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini dan Tuhan selalu mendengar doa hamba-Nya.

Banyak buku fiksi ku baca. Para penulisnya selalu membubuhkan amanat untuk tidak takut bermimpi. Mereka meramu kekuatan untukku yang selalu merasa ingin jatuh hanya karena embusan angin. Bukan berarti aku lebih percaya kepada penulis daripada keluargaku sendiri. Tetapi para penulis lebih banyak memberiku kekuatan lewat tulisannya daripada keluargaku sendiri yang malah menipiskan semangat.

Sesulit apa pun sebuah jalan, aku harus melewatinya. Koaranku akan menjadi sampah bagi orang banyak bila aku menyerah. Dan hidupku akan menjadi biasa saja bila aku takut sebelum berperang.

Namun, ada satu nasihat yang musti ku pelajari dari beliau. Mengenai diriku yang terlalu banyak berencana. Ya. Aku tahu. Nasihat satu ini mengetuk pintu kepalaku untuk merubah sifat yang terlalu banyak berpikir ini-itu sebelum menghadapi sesuatu. Aku mustinya mempelajari sesuatu terlebih dahulu sebelum berencana. Kepalaku harus didinginkan.

Aku tahu amarahku kali ini tidak bisa dipungkiri lagi. Tidak heran mengapa 5 hari terasa seperti sebulan mencekam. Mulai dari saudara hingga keluarga lainnya terus menggodaku untuk tetap tinggal di sini. Tidak tahukah mereka sebuah syair dari Imam Syafi’i mengenai orang sukses?

Merantaulah!

Ya, memang aku tidak tahu di mana rezekiku berada. Tapi manusia yang tidak merantau bagaikan manusia yang hanya membaca satu halaman sebuah buku. Ilmu tersebar di mana-mana. Berbeda-beda setiap tempatnya. Bila aku menyia-nyiakan kesempatan untuk tidak merantau, maka terasa bututlah otakku.

Maaf bila aku hanya bisa memendam dan menuliskannya di posting blog. Aku tidak bisa menyakiti hati keluargaku dengan berkata seperti ini di depan mereka. Mereka memiliki niatan baik, mereka ingin menjagaku di sini. Sayangnya, ada kewajiban lain yang harus ku jalankan.

Kala beranjak nanti, hanya satu pintaku pada mereka.

Doakan aku untuk meraih segala impian tinggi ini.

7 thoughts on “Hantam 1

  1. tabee’ ,,, ini cuma saran yang masih banyak pertimbangan-pertimbangan,,, menurut saya kita sebenarnya sebagai anak/anggota keluaarga dirumah biasanya kurang dimengerti karena apa yang kita mau tidak sejalan dengan keinginan keluarga. mengapa? karena mereka ingin yang terbaik bagi kita, tapi sebetulnya mereka tidak mengetahui impian apa yang ada pada diri kita,,,, nah jadi yang perrlu kita lakukan hanya ngobrol dengan mereka, memberikan informasi mengenai apa yang ingin kita lakukan dan butuh pembuktian seehingga mereka dapat percaya dan memberikan kepercayaan,, tabe,,

    • Terima kasih sarannya kak, sejujurnya saya tahu cara itu. Beberapa kali saya sudah melakukannya, tapi selalu ditanggapi dengan negatif. Ya, karena belum ada pembuktian itulah. Tapi bagaimana ada pembuktian apabila mau memulai saja sudah ditentang?

  2. kalau menurut saya sebenarnya sudah ada pembuktian. yaitu ketika nabila kemarin datng ke pare untuk kursus bhs.inggris yang sudah terlihat hasilnya dengan diajaknya nabila bergabung di salah satu kursusan yang ada di makassar. nah yang sekarang mau dilakukan adalah bagaimana orangtua bisa percaya dengan kita dan memberikan izin yang kedua kalinya,,,,
    the highly imaginative will know about the solving and what excuses and acts that has to take. tabe,,,

    • Kalau orangtua sudah memberikan izin kok… tapi yang lainnya masih ingin menahan. Selain itu, ternyata, banyak hal yang masih belum diterima mengenai diri ini.

  3. ma’af,, kalau itu mungkin saya belum bisa terlalu dalam untuk ikut campaur mengenai nabila, saya cuma bisa menyarankan, itu pun masih butu pertimbangan dan berdo’a mengenai apa yang nabila inginkan,,, good luck,, i wish you do the best for your action.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s