Akar

image

Sore itu saya bersemedi di toko buku. Tidak lama. Hanya beberapa menit untuk menentukan buku apa yang ingin saya baca. Tidak banyak pula yang bisa saya beli, hanya tiga buku. Tiga buku yang belum mencukupi keinginan untuk membeli beberapa jenis buku lainnya. Buku-buku tersebut ialah, Akar dari Dee Lestari, Happily Ever After dari Winna Efendi, dan The Mark of Athena dari Rick Riordan. Dari tiga jenis buku itu, saya memang masih mengikuti ‘rasa’ terbukti dari terpilihnya roman picisan dan dongeng yang terbeli. Tapi, satu yang berbeda. Akar.

Sudah sering saya melihat buku karangan Dee Lestari, tapi tidak pernah ada rasa untuk membeli. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Geng Berkelok. Kak Ria, kelokan tertua, menyarankan untuk membaca semua karangan Dee. Dan, Rahma, Sang Alien, juga menyuruh saya membaca karangan-karangan Tere Liye. Mereka Genk yang saya impikan, genk para pecinta Buku dan Musik Akustik yang jarang didengar orang.

(Jadi kangen malam penuh kisah dengan Geng Berkelok)

Pertama, saat saya melihat cover semua karangan Dee ingatan saya bermain pada simbol-simbol dalam Drama West Heroes yang berhenti ditayangkan pada tahun 2006. Drama favorit saya itu menceritakan tentang Manusia yang memiliki Gen Super yang dapat menghasilkan kekuatan. Kekuatan seperti; Telekinesis, Chronokinesis, dan lain sebagainya. Sehingga pemikiran saya berakhir pada kekuatan. Oh… kisah ini pasti mengenai manusia berkekuatan bumi, pikir saya.

Tebakan saya tidak memberikan jawaban benar karena pada awal bab saya disuguhkan cerita dari seorang Gio yang berada di Bolivia. Potongan kisah dari buku Dee lainnya, yang belum sempat saya baca. Saya tidak sengaja membeli buku seri kesekiannya, karena kekurangan info mengenai Dee. Sama seperti buku Rick Riordian yang pernah saya beli sebelumnya. Tetapi, kesalahan itu tidak menyurutkan cinta saya pada karangan mereka. Saya malah terinfeksi rasa ketagihan ingin membaca karangan mereka, lagi dan lagi.

Setelah kisah Gio yang kembali bersambung, masuklah dalam rangka utama. Keping 35 Akar.

Saya mulai tertarik dengan bahasa yang mudah dicerna dengan latar Negara Indonesia. Perjalanan saya pun dimulai. Awal saya masih paham benar, kemudian perjalanan saya mulai berkelok. Banyak hal yang terjadi pada sang tokoh utama, Bodhi. Membawa saya lebih dalam ke tubuh Bodhi, merasakan perjalanan hidupnya yang parah namun mengasyikkan.

Tebakan saya tidak sepenuhnya salah, karena benar adanya Sang Bodhi memiliki kekuatan. Kekuatan yang berasal dari Bumi, memengaruhi prespektif hidupnya sejak kecil hingga dewasa. Cara pandanganya berbeda dengan manusia biasa, tubuhnya seperti kebal, dan perjalanannya pun sangat saya impikan minus kengerian yang melingkarinya.

Bodhi hidup. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana bila saya memiliki hidup sepertinya. Dengan kebingungan yang melandanya, dia tetap bertahan hidup. Mencari entah apa. Yang dia tahu hanyalah mengikuti ke mana kaki membawanya. Ke mana telunjuknya berlabuh di sebuah peta, dan ke sanalah dia beranjak. Tidak ada tuntutan hidup, dia hanya melakukan apa yang memang harus dilakukannya kala itu.

Latarnya berubah-ubah. Indonesia, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan beberapa tempat lainnya. Di seluruh tempat Bodhi makin menyadari keanehan dirinya, dia seakan memiliki kekuatan dari Buddha. Pertemuannya dengan orang-orang unik pun mewarnai kisahnya. Pertemuan berartinya dengan Kell menghadiahkannya sebuah tato. Dan dari Kell pula dia belajar menjadi seorang pentato yang kelak membawanya ke lingkup anak punk Jakarta. Lingkup yang membawa anarki untuk meraih kemerdekaan individu.

Intinya, saya senang dengan perjalanan hidup Bodhi yang tidak begitu-begitu saja. Dee menyadarkan saya bahwa perjalanan hidup tidak semulus wajah artis yang dipoles berkali-kali dengan make up. Ada perjalanan panjang nan berkelok yang selalu dilewati manusia untuk mencapai garis akhir mereka. Bahwa, pencapaian tertinggi manusia ada pada saat mereka berada di perjalanan. Sekuat, searif, dan semandiri apa manusia dapat melewati jalan hidup mereka sendiri.

Saya terkagum-kagum membaca Akar. Tidak pernah bisa membayangkan, apakah saya dapat membuat tulisan sebagus Dee atau tidak. Sayang oh sayang, kisah mengenai Bodhi bersambung pada buku selanjutnya, Petir.

Dengan jelas saya masih ingin membeli karangannya. Saya harus memiliki semua jenis serinya. Segera atau kelak nanti.

3 thoughts on “Akar

  1. Belum pernah baca karangannya xinnu, walaupun udah banyak yang rekomendasiin dan sekarang jadi salah satu dalam list buku yang ingin dibaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s