Tian

Riak api unggun menemani kami malam itu, malam yang mendebarkan setelah menghabiskan waktu seharian di bibir Pantai Bira. Seperti biasa, Dian mencetuskan permainan ‘Truth or Dare’ setelah sekian lama tidak bersentuhan dengan permainan paling bersejarah selama SMA kami itu–yang membuat kami berdebar cemas. Aku sendiri terdiam hanyut, menikmati dinginnya malam dan hangatnya api unggun yang menyengat sedikit-sedikit. Ada gundah di sana, takut Dian bertanya macam-macam. Apalagi ada beberapa teman kuliah dan seniorku yang ikut dalam reuni kali ini.

“Nabila!”

“Ha?” Dengan tampang paling bloon aku menatap Dian tidak terima. “Aku?”

“Ya, tentu saja,” Dian berkata, “pasti banyak yang penasaran tentang dirimu. Jadi, supaya ramai, permainan dimulai dari dirimu. Truth or dare?”

Aku masih tidak terima. Permainan ini tidak akan usai bila aku dijadikan korban pertama. Mereka akan menghabisiku dengan ribuan tanya atau suruhan. Dari kumpulan 25 manusia–tidak termasuk diriku–akan memberiku tanya dan suruhan. Hei, malam ini bukan malam yang panjang, bukan?

“Ayolah, Bil!” Ardi menyahut, dia teman kuliahku. Tampangnya tidak sabar, benar-benar ingin membombardirku.

“Baiklah.” Aku menyerah, tidak ada cara untuk menghindar. Lagipula, setelah ku pikir, aku memang efektif dijadikan korban penghangat suasana toh ada senior dan teman kuliahku yang hadir. Apabila yang dijadikan korban adalah teman SMA-ku yang lain, teman-teman kuliahku akan terdiam, tidak tahu apa-apa.

Truth or dare?” Dian bertanya.

Truth.” Jawabku memilih aman.

Ku lihat semua orang bersiap memberi pertanyaan. Tidak habis pikir, sepertinya aku memang menjadi sasaran empuk malam ini. Tampang 25 orang di sekitarku terlihat mencekam, tidak semuanya, ada beberapa orang yang tampak bingung. Aku harap tidak ada pertanyaan yang aneh-aneh.

“Aku duluan! Adakah pria di sini yang kamu kagumi?”

Sial! Dian memang selalu memberikan pertanyaan tak berbobot seperti itu. Dia tidak lain seperti kala kami masih duduk di bangku SMA. Pertanyaan macam untuk anak SD diberikannya padaku, yang benar saja!

“Ada.” Jawabku sekenanya. Yang jelas aku sudah menjawabnya, bukan?

“Siapa?” Dian bertanya. Aku menggeleng, “Satu orang untuk satu pertanyaan.”

“Siapa?” Ardi bertanya, ber-high five dengan Dian. Ah, mereka berdua bisa ku jodohkan saat ini juga. Raja dan Ratu usil kita malam ini ku berikan pada keduanya, yang sialnya menjadikanku korban keusilan mereka hari ini.

“Seniorku.”

He, sekarang mereka tidak bisa macam-macam! Aku jelas sudah menjawabnya. Ku dengar beberapa orang mendesah kecewa saat aku tidak menyebutkan nama dari seseorang yang ku kagumi, beberapa lainnya mencoba menebak siapa orang ku kagumi itu.

“Namanya?” Kali ini giliran Verry yang ku lirik dengan sinis. Dia, Ardi, dan Dian saling ber-high five.

Ada jeda lama, ku pandang ujung sendal jepit yang ku kenakan. Habislah aku malam ini. Aku tidak tahu harus ku simpan di mana wajah ini kelak. Aku tahu, teman-teman SMA-ku sudah tahu senior yang mana yang berhasil ku kagumi. Mereka tahu tipe-ku yang seperti apa. Tapi tidak bocor seperti ini juga, kan?!

“Kak Tian.”

Semua orang berdehem, menggoda. Aku tidak berani memandang Kak Tian, pemilik rambut ikal sebahu yang kini mengikat rambutnya menggunakan karet gelang. Aku tahu, setelah ini aku akan dijauhinya, seperti yang dilakukannya pada beberapa gadis yang menyatakan cinta padanya. Pupuslah sudah harapan terbesarku.

“Alasannya?” Suara Kak Tian membuat semua orang terdiam. Hawa malam ini tiba-tiba terasa gerah. Aku masih memandang ujung sendal jepitku.

“Entahlah. Sejak awal sudah kagum, itu saja.”

“Dan kagumnya makin berkembang tiap waktu.” Dayat menambahkan, dia duduk di samping Kak Tian. Aku refleks menatapnya, menyuruhnya diam, tapi dia malah tertawa cekikikan.

“Pernah berharap jadi pacarnya Tian, nggak Bil?” Kak Oto bertanya, orang-orang kembali diam. Anehnya, tidak ada yang tertawa ketika dia bertanya.

“Pasti pernahlah kak.” Ah, aku memang tak pandai berbohong. Terkupas habislah seluruh rahasiaku malam ini.

“Ada harapan.” Kak Oto bergumam, menyikut perut Kak Tian. Aku memandangnya penuh tanya dan dia mengangkat bahu, berpura tidak tahu.

Malam itu aku benar-benar dikuliti oleh pertanyaan yang tidak jauh dari topik yang berhasil Dian angkat. Diam-diam, hatiku makin terasa gundah. Tidak pernah sedikit pun ku beranikan diri untuk menatap Kak Tian. Mati kutu. Entah akan bagaimana perkembangan hubungan–tidak–perkembangan project travel video yang kami usung tahun ini. Aku tidak yakin bisa bersikap seperti biasa di dekatnya.

—–

Setelah api unggun dimatikan, semua orang kembali ke cottage-nya masing-masing untuk mengumpulkan energi. Esok, pagi sekali, kami akan kembali ke Makassar. Lusa, aku dan teman-teman kuliah (termasuk senior) akan beranjak ke Malino untuk menghabiskan waktu liburan sekaligus membuat beberapa video sebagai praktek teori yang telah kami dapatkan di bangku kuliah.

Ya, sudah dua tahun lamanya aku duduk di bangku kuliah. Mengecap pendidikan Pertelevisian dan Film di salah satu Universitas Swasta di Yogyakarta. Dan sudah dua tahun lamanya pula aku tidak menginjakkan kaki di ranah Sulawesi, ku habiskan waktu menjelajah ranah Jawa dan Lombok selama itu.

“Na,” Dian, yang satu cottage denganku, memanggil nama kecilku. Dia mengintip di balik horden. Penasaran, aku mendekatinya dan melihat ke arah yang sama.

Kak Tian. Dia sedang duduk diam di dekat tumpukan kayu api unggun yang telah hangus. Bermain gitar di bawah sinar rembulan. Tampangnya tambah gemilang di mataku.

“Coba keluar, ngobrol dengannya.” Dian mencetuskan ide.

“Siapa tahu jadi.” Dina menyahut, dia sedang berbaring di kasur sembari memainkan smartphone-nya.

Tidak lama bunyi hapeku berkumandang. Aku dan Dian menatap benda persegi itu bergantian dengan Kak Tian yang sedang memegang hapenya di luar. Dian tersenyum nyinyir, “Udah sana.”

“Belum tentu.” Elakku meraih hape dan melihat nama Kak Tian sebagai pengirim pesan.

Ujung jariku gemetar, menekan tombol untuk membuka pesan. Seperti yang sudah diduga Dian juga Dina. Kak Tian menyuruhku keluar. Aku terlalu takut untuk berekspetasi. Ada dua jawaban yang tidak bisa ku tebak yang mana akan dipilihnya.

“Cepat sana keluar! Kak Tian udah kedinginan.” Dina berceloteh. Tuhan, kenapa aku satu kamar dengan dua wanita cerewet?

“Peluk dia kalau dingin.” Kata Dian. Aku menatapnya sinis. Gila benar pemikiran anak ini.

Dan akhirnya aku keluar dan menemui Kak Tian. Dia terduduk, menatapku, kemudian memetik senar gitar. Tidak ada melodi yang ku tahu, tapi dia tidak terlihat akan memainkan lagu. Jadi aku tetap berdiri, dengan asing di hadapannya. Ada ribuan tanya yang menyerbu otakku dan tak satu pun bisa ku keluarkan. Di lain hal aku tetap tidak bisa menghilangkan bayangan indahnya di bawah sinar rembulan, ditambah deburan ombak yang memperindah latar malam ini.

“Pandanganmu jadi asing.” Dia berkata, menghentikan petikan senar gitarnya.

Mataku menyipit. Ku alihkan pandangan ke ujung sandal, menggosok-gosok sandalku dengan pasir putih yang ku pijak. “Maaf, kak.”

“Karena?”

“Karena…” aku menggaruk kepala. “Ya, karena tadi.”

“Kenapa harus minta maaf? Memangnya, menyatakan perasaan itu salah?” Kak Tian mulai berorasi. Kali ini aku berani menatapnya, pandangan yang ku paksa tidak asing lagi.

“Aku nggak nyatain perasaan loh kak. Siapa bilang aku nyatain perasaan? Pede amat.”

“Tapi kamu suka sama aku, kan?” Ujung bibirnya tertarik. Senyum lebar yang menyebalkan.

“Bodoh amat. Udah ah, istirahat sana.” Kataku sembari menggerakkan kedua tangan, menyuruhnya kembali ke cottage dan beristirahat hingga bunyi adzan Subuh berkumandang.

Tapi dia enggan berdiri. Matanya menyipit, menatapku penuh selidik. “Perempuan itu aneh deh, udah ketahuan juga suka sama laki-laki, mereka tetap sok jual mahal. Lumer aja dah kalau emang udah lumer dari sononya. Jangan berusaha mengeras kalau udah lumer, ntar lumernya nggak merata. Kayak cokelat lumer setengah jadi, kan enek.”

Teori gila lagi. Aku tidak tahu hingga kapan Kak Tian berhenti berteori aneh.

“Tapi cokelat tetap cokelat. Banyak peminatnya. Nggak nyambung sama teori perempuan, ah.” Elakku.

Kak Tian menhela napas, “Jadi gini dinda, kalau perempuan sok jual mahal–padahal semua orang udah tahu perasaannya–dia bakal jadi sosok yang nyebelin. Sampai cowok yang ditaksirnya jadi enggan mendekati karena kita, para cowok, bakal mikir; sial bener nih cewek, sok banget.”

“Iya kanda, jadi maksudnya untuk apa?” Tanyaku tidak sabaran. Malam makin mencekam, ada beberapa rombongan turis yang ku lihat mabuk di seberang pekarangan cottage kami.

“Kamu jangan jadi asing di dekatku. Jangan jauhin aku. Jangan PDKT sama cowok lain, cukup aku aja yang dijadiin korban. Karena,”

“Karena?”

“Karena udah malam, ayo balik ke cottage. Besok kita berangkat pagi, kan?” Dia berdiri sembari membersihkan celananya yang berpasir. Aku mengangkat bahu, “Ya udah kak, aku balik ya.”

“Tunggu sebentar!” Dia berlari kecil ke arahku, tersenyum kecil dan menyodorkan sebatang cokelat.

“Terima kasih, ya. Semoga kamu mimpiin aku di dalam tidurmu.” Bisiknya lalu beranjak ke cottage. Aku terdiam. Memperhatikan langkah kecilnya di atas pasir.

Dari depan cottagenya dia melambaikan tangan, menyuruhku masuk, ku ikuti intruksinya–masih dengan tanda tanya besar di otak. Begitu sampai di dalam cottage, Dian dan Dina menatapku dengan senyum lebar. Kedua wanita itu mengambil cokelat dari dekapan tanganku.

“Oleh-oleh dari Kak Tian! Kita makan ya,”

Mau tak mau aku mengangguk. Bukan masalah cokelat aku jadi ling-lung. Tapi soal kata-katanya yang masih mengambang. Aku tidak paham. Aku menatap Dina mau pun Dian, ingin menanyai mereka arti kata Kak Tian sebelum hapeku berbunyi, tanda pesan masuk.

Pengirimnya Kak Tian. Ujung jemariku bergetar saat menekan tombol buka. Dan ku baca perlahan kalimat yang dia buat di sana.

Begitu sulit merangkai kata secara langsung,
padahal tidak banyak yang ingin ku katakan.
Jelas sudah, aku harap kamu mengerti bahwa rasa itu juga ada untukmu.
Jadi, esok, tak perlu lagi kamu gundah berada di sekitarku.
Jangan asing berada di dekatku.
Rasa kita sama.
Kita jalani saja dahulu, hubungan yang sejujurnya belum ku pahami.
Tapi ku harap kamu menerimaku, dengan cokelat itu.

Entah cokelat itu sudah di makan oleh Dian dan Dina.
Yang jelas aku sudah anggap, kamu menerimaku.

Tian Ahmad Mahendra

END

Note: Semalam saya tidak bisa tidur karena merasa ada yang belum saya tuntaskan. Saya belum menulis. Menulis cerpen yang idenya sudah menumpuk di otak. Akhirnya, ketika adzan Subuh berkumandang, saya mulai menulis. Di tengah proses menulis, kantuk itu akhirnya datang. Saya berhenti sebentar lalu tertidur hingga pukul 07.00 pagi.

Hanya cerpen abal-abal ini yang jadi T,T lama tidak menulis kisah remaja, otak saya kaku setelah lama bersemedi. Ya, saya perlu memperbanyak latihan kembali

3 thoughts on “Tian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s