Dia, My Big Brother

Aku tiba lagi kawan, ingin bercerita mengenai kejadian yang telah menjadi kenangan. Kenangan yang sayang bila hanya teronggok di otak, dimakan waktu, digerus momen lain. Aku harap kamu mau membaca coretan ini, kawan.

Pagi itu langit masih biru, sedikit gelap karena matahari belum kunjung bangun dari tidurnya. Rembulan masih tampak di langit, bersama sekawanan awan yang serupa permen kapas. Nyanyian berbahasa Arab berkumandang, terucapkan oleh kawanan anak asrama Bahasa Arab yang sedang berkumpul di samping persawahan. Menyambut pagiku.

Sadel sepeda ku kayuh pelan-pelan. Oksigen ku hirup dengan lapang, udara pagi terasa lebih segar dibandingkan udara siang atau malam. Embun-embun masih terasa, melembabkan jalanan juga tanaman di sekitar. Tidak dapat dielak memang, pagi adalah sumber semangatku. Terlebih ketika berada di pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan besar. Tiada polusi yang menyumbat pernapasan.

“Hei! Miss!”

Kayuhan sepeda ku hentikan tepat di depan jembatan kecil yang selalu ku lewati tiap pagi dalam dua minggu terakhir. Sekawanan pria berdiri di sekitar jembatan, mencuri pandang ke arahku, bergantian dengan objek yang memiliki kewajiban untuk speech pagi ini. Mereka berdehem, bersiul kepadaku. Oke, aku sudah kebal.

What is the matter, mister?” Tanyaku pada pria yang memanggilku beberapa detik yang lalu. Kak Andre, tutor sekaligus classmate yang sudah ku anggap sebagai saudara sendiri.

I miss you, and ‘she’ miss you.” Ujarnya sembari melirik pria yang tengah speech di atas beton ujung jembatan. Dasar pria, mereka selalu bertindak hebat sampai tidak memikirkan keselamatan sendiri.

Omong-omong, she yang dimaksud Kak Andre bukanlah seorang wanita, melainkan seorang pria yang sedang speech itu. Sebut saja, Atta. Oke, aku tidak pernah peduli siapa namanya. Dia adalah sosok yang santer ku dengar, mengidolakanku. Katanya. Tapi aku tidak tahu apa itu benar atau hanya permainan para anak asrama pria padaku. Kita tidak pernah tahu pemikiran pria, bukan? Para wanita?

Oke. Stop that fucking joke, I gotta go!” Kataku sembari meninju bahu Kak Andre dan menyeimbangkan badan sepeda. Bersiap untuk beranjak.

Wait!!! Miss!! You must watch him until finish!” Seorang lainnya bersorak, diikuti yang lainnya.

“Jangan dulu pergi, miss. Kasian, nanti semangat Mr. Atta menurun.”

Miss! Stay here. Nanti saya suruh Mr. Atta antar sampai kelas!”

Gila. Aku tertawa kecil. “No, thanks mister. I gotta go! Bye!!”

Dan pagi itu aku melajukan kecepatan sepeda. Orang-orang masih bersiul dan otomatis urat maluku bekerja. Tidak lagi ku pedulikan udara segar yang harusnya ku hirup pelan-pelan, aku hanya ingin terlepas dari siulan itu. Beranjak menjauh dan melupakan kejadian memalukan tadi. Sial. Aku tidak boleh termakan kejailan Kak Andre.

@@@@@

Kak Andre berjalan bersisian denganku beberapa hari kemudian. Dia mengantarku yang ditinggal oleh teman asrama menonton tayangan sebuah video komedi berbahasa Inggris di sebuah cafe yang terletak tak jauh dari asrama. Kala itu dinginnya malam mencekam kulit, tapi aku tidak memperlihatkan kegusaran. Udara malam juga masih terasa segar.

I will be back to my hometown a few days later, don’t you have promise to me? A burger.” Rajukku pada Kak Andre yang sedang membawa sepeda fixienya berjalan di sampingku.

Dia tertawa pelan. “Ok. Tomorrow, I promise.”

I cannot believe you, you always said tomorrow. But nothing.” Kataku jujur, membuatnya makin tersudut. Ya, seharusnya aku tidak perlu lagi mengungkit janjinya membelikanku Burger porsi besar yang dijual di sebuah cafe di Pare. Kak Andre tidak bisa ku percayai sepenuhnya. Dirinya penuh bualan.

I’m promise. Truly.”

Hell yeah. Let’s see later.” Sahutku enggan.

Kemudian ada jeda. Hanya ada suara hentakan kaki, roda sepeda, dan percakapan orang-orang yang masih asyik berkumpul menikmati malam minggu kala itu. Aku tidak punya topik dan Kak Andre–yang biasanya memiliki ribuan topik pembicaraan tiba-tiba membisu. Berjalan berdua memang sangat awkward.

“Hei, my fucking little sister. Don’t you want to say something to ‘her’?” Akhirnya Kak Andre berbincang. Sebutan she dan her sengaja dibuat Kak Andre untuk Atta. Dia berteori bahwa Atta adalah wanita dan aku adalah pria.

What must I say? He has never called or message me, have you told him my number?” Tanyaku jengah.

Yeaajust ask about when will you marry me? Or maybe when will you kis… ouch!”

Ku tinju bahunya jengkel. Otak Kak Andre memang cukup berbahaya.

I have never told him… ouh her.” Akunya membuatku mengangkat bahu.

“Memang lebih baik nggak perlu dikasih.”

“Kenapa?” Tanya Kak Andre.

He must ask by himself to me, my number phone.”

“Oh yeah. She is totally girly. Shy man.” Kata Kak Andre tertawa pelan. Aku menggeleng, menyembunyikan rasa aneh pada sifat Kak Andre yang bicaranya out of the box. Dia musti dinobatkan sebagai pria pemilik mulut superpedas dan mulut superember sedunia.

Thanks udah dianterin, Kak. See you tomorrow in class!” Ujarku akhirnya, saat pintu gerbang asrama berada beberapa langkah di hadapanku.

Kedua alis Kak Andre bergerak naik, dia mengangkat salah satu tangannya. “Bye. Have a nice dream, do not forget to dream about her.”

Hell… just dream about me bro! Bye!”

@@@@@

Aku benar. Kak Andre tidak pernah merealisasikan janjinya. Malam ini adalah malam terakhir di bulan ini aku tinggal di Pare, esok aku akan berangkat ke kampung halaman. Ke sebuah kota yang telah menjadi tempat kelahiranku selama ini. Kota yang hiruk-pikuk dengan kesibukan, polusi, dan hedonism. Aku tidak pernah bisa menghilangkan jejak kemalasan untuk kembali ke sana. Meski menjadi tempat kelahiran, aku selalu enggan untuk tinggal lebih dari sebulan di sana. Entahlah. Aku memang bukan anak yang suka tinggal di satu tempat lama-lama.

Acara farewell party sudah berlangsung dan Kak Andre belum kunjung datang. Ku pikir, mungkin dia lupa atau memang malas datang ke acaraku. Jadi, ku layangkan perhatian pada anak asrama yang lain. Pada Atta yang akhirnya ku bicarai, hanya kata maaf dan terima kasih ku katakan padanya. Maaf karena sudah dicuekin, terima kasih karena sudah menyukaiku. Simpel memang, tapi aku perlu memutuskan urat malu saat berbicara padanya.

Saat acara akan berakhir, akhirnya Kak Andre tiba. Seperti biasa, setelannya tidak pernah berganti. Kaos dan celana army selutut. Aku sempatkan ngobrol dengannya, meski kehadiranku ditarik oleh anak-anak lain.

“Ah… telat.” Kataku berpura-pura ngambek.

Dia tersenyum jail, “Maaf maaf… saya jadi tutor di camp 2 dan camp 4 jadi telat datang. I’m sorry my lovely fucking sister.”

“Okelah.” Kataku akhirnya dan berlalu ketika ditarik untuk berfoto oleh teman-teman asrama lain.

Ketika acara benar-benar berakhir barulah aku dapat ngobrol dengan Kak Andre. Dia sudah akan beranjak pulang dan aku menahannya. Hanya untuk bercanda, menanyakan janjinya membelikanku Burger.

Where is my burger? I will go tomorrow.

I will buy for you, wait!” Katanya ingin beranjak.

Aku menahannya, menertawainya pelan. “Shit. You always forget! Udah, lupain aja. Just treat me later. So, I gotta go. Thanks for everything you have taught me. Semoga kita bisa ketemu lagi, kak.”

“Yea I hope that too. I really like you my lovely little sister.” Akunya sempat membuatku ingin tertawa. Baru kali ini aku melihatnya benar-benar serius. Atau tampangnya dibuat seakan-akan sedih akan kepergianku. Entahlah.

“Udah malam… You have to take a rest. See ya!”

Ku anggukkan kepala, melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. “See ya!!!”

@@@@@

Beberapa minggu kemudian, saat sedang tidak melakukan apa-apa di kamar kakak, sebuah bunyi membuatku kelabakan. Aku tidak pernah bisa membedakan bunyi pesan masuk dan telepon berbunyi, jadi semua bunyi akan membuatku kelabakan. Begitu melihat layar handphone yang menampilkam sebuah nama tengah memanggil, mataku ku kerjapkan beberapa kali. Apa aku tidak salah?

Sadar benda persegi itu tetap berbunyi, aku pun menjawab panggilan itu.

Hello my lovely fucking little sister!” Ternyata mataku tidak salah. Hanya satu orang yang memanggilku dengan sebutan yang begitu panjang. Kak Andre.

Hei! What’s the matter?” Sapaku kemudian.

Nope. I just miss my fucking little sister, because you have never call me again.” Dia merajuk. Aku tertawa cekikikan, baru kali ini ada orang yang benar-benar merindukanku dan berkata dengan jujur apa yang dirasakannya.

I miss ya too my fucking brother. How’s life?”

I’m fine, but there was someone has made my day isn’t perfect.” Ujarnya yang bisa ku tebak siapa yang dimaksud.

“Yayaya… jadi, lagi ngapain nih?” Tanyaku tidak peduli dengan kepiawaiannya dalam bermodus.

Dating with Mr. Arda. Kamu?”

Haaa… always dating with him. You should dating with a girl! I’m doing nothing.” Sungutku. Kak Andre bergumam sebentar, kemudian dengan riang dia berkata. “I just wanna go date with you! By the way let’s talk about her!”

Sial. Ke mana-mana topik yang dibawakannya pasti mengenai Atta.

Shit. Just turn off the phone.”

No no no… I’m kidding.”

Dan begitulah selanjutnya. Kak Andre selalu berupaya–atau mungkin pura-pura worth sebagai Mak Comblang. Meski begitu, dia tetap menjadi salah satu saudara yang ku dapatkan di Kota Pare. Kisah kali ini mungkin tak memiliki banyak artian, tapi entah mengapa kisahnya selalu terkenang di otak. Mungkin karena aku merasa bahagia telah memiliki Saudara laki-laki?

Perhaps. Kata orang aku memang memiliki sindrom akut ingin memiliki Saudara Laki-laki yang lebih tua. Tapi tidak pernah tahu, sindrom itu benar-benar ada atau hanya cibiran mereka. Kalian saja yang menilai, kawan. Terima kasih sudah mendengar ceritaku malam ini.

Note:
Sebelum handphone saya berbunyi, saya sempat merangkai kata bahwa kenangan yang saya alami di Pare hanyalah semacam rintik. Seperti lagu dari Calbie Colliat yang berjudul Droplets. Hanya meninggalkan bekas dan pergi entah ke mana. Saya sendiri merasa ingin beranjak jauh dan melupakan-dilupakan. Itulah sindrom yang saya alami setiap tahunnya. Kala saya bertemu dengan sekelompok orang, kemudian berpisah dengan mereka. Perpisahan membuat saya selalu enggan dekat dengan orang. Terlalu sedih bila sudah saling melupakan.

Tapi telepon saya berbunyi, sebuah suara menyadarkan saya bahwa sesungguhnya mereka tidak benar-benar melupakan saya yang berada jauh dari mereka. Seseorang yang tidak pernah saya bayangkan akan menelpon saya, seseorang yang saya kira hanya bercanda mengatakan suka sebagai seorang adik kecilnya.

Hari ini saya harus mengucapkan terima kasih padanya. Dan juga Mr. Pres yang sempat nyumbang ketawa dan aksen Britishnya yang ala-ala. ^_^ All of you, worth to remind me that our togetherness is real Breath. Because Asset; Togetherness is our breath.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s