Bromo!

image

Ehm...jilbab hijau *uhuk*

Ada posting dari sebuah media internet yang mengatakan bahwa zaman sekarang tidak seasyik zaman 90’an. Ada benarnya, ada pula salahnya. Saya tidak bisa mentolerir betapa canggihnya media elektronik saat ini. Setiap hal memiliki 2 sisi berbeda seperti uang koin. Ada positif dan negatif. Ada Utara dan Selatan. Maka ada dampak baik dan dampak buruk di dalamnya.

Tetapi bukan itu yang saya ingin ceritakan kali ini. Ilmu saya masih cetek untuk membicarakan persoalan seperti itu. Jadi, biarlah kali ini saya bercerita mengenai perjalanan pertama saya ke Bromo beberapa bulan yang lalu. Fyi, saya sempat berikrar waktu pembuatan blog kalau saya akan menceritakan segala kisah perjalanan saya–sebagaimana impian saya yang ingin menjadi Traveler Writer. Jadi, saya akan buktikan kali ini.

Pertama kali ke Bromo saya diajak oleh teman kelas dari Program Writing 1 di Global E Pare yang saya panggil Kak Dania. Dia seorang mahasiswa IPB yang sedang berlibur dan ingin beranjak ke Bromo sebelum kembali ke Bogor setelah kursus selesai. Ketika itu, rombongannya kurang 5 orang. Saya dan Kak Dewi–teman kelas juga–diajaknya. Kami pun sepakat ikut. Tiga lainnya akan dicari Kak Dania dari campnya. Ada sekitar 3 hari sebelum keberangkatan dan kami diharuskan mengumpulkan uang akomodasi sebesar Rp 180.000,- less makanan.

Pada hari H ternyata Kak Dewi tidak jadi ikut karena dia akan berlibur dengan prince-nya di Malang. Saya sempat bimbang karena yang saya kenal dalam rombongan hanya Kak Dania. Tiada teman ngobrol tidak akan membuat perjalanan mengasyikkan, bukan? Tetapi pemikiran saya yang lainnya berkata untuk tidak memikirkan hal itu. Lagi pula saya akan kembali ke Makassar lebih dari 2 minggu kemudian, sedangkan saya belum menginjakkan kaki di Bromo. Jadi saya tetap pada pendirian untuk ikut.

Bus Travel akan menjemput rombongan pada Pukul 12.00 malam WIB di depan Global E yang terletak di Jalan Brawijaya. Sehingga saya ‘bermalam’ di camp kak Dania untuk bersama-sama ke sana. Di asrama Kak Dania, tanpa diduga, saya mendapat banyak teman yang juga merupakan rombongan ke Bromo. Kami bercerita tanpa kenal waktu, hingga tiba-tiba sudah pukul 23.30. Proses ‘bermalam’ ini seakan sebuah proses PDKT saya bersama beberapa rombongan *ehem.

Pada pukul 12.30 bus pun melaju di atas jalanan Kota Pare yang sepi menuju Malang. Perjalanan yang cukup panjang. Hampir seluruh orang tertidur selama perjalanan. Tiada pemandangan yang enak dipandang selama beberapa jam hingga bus tiba di daerah Batu. Saya lupa pada pukul berapa. Tapi saat itu mata saya tiba-tiba melek melihat pemandangan Kota Malang yang menawan dari atas daratan tinggi. Saya berasa seperti berada di atas awan. Kelap kelip lampu kota memenuhi mata saya. Begitu gemerlap. Saya menamai pertistiwa itu sebagai Pengalaman di Kota Awan. Tidak sekali saya ingin melihatnya, tapi berkali-kali!
image

Tidak lama saya disuguhi pemandangan itu, bus pun sampai di Kota Malang. Saya sempat mengirim pesan pada Uya yang kini berkuliah di Malang. Namun, karena sudah malam tiada balasan darinya. Selama beberapa jam bus tetap melaju. Saya tidak tertidur, hanya berbaring memikirkan apa yang akan terjadi di Bromo.

Beberapa jam kemudian, hampir seluruh rombongan terbangun dari tidur. Mereka mengeluh dengan perjalanan yang berkelok-kelok. Perjalanan yang membuat perut dan kepala mereka berontak karena mual*maklum, perjalanan ini diisi oleh para wanita cerewet hahahaha. Tidak sampai disitu, keluhan mereka berlanjut ketika rombongan harus berdiam diri di Bus selama setengah jam untuk menunggu Mobil Jeep yang akan membawa kami ke point pertama di Bromo.

Dingin menusuk kulit begitu kami turun dari Bus menuju Jeep. Bila tidak ingin mengeluarkan banyak uang, kalian harus membawa beberapa perlengkapan dari rumah seperti; Jaket Parasut, Syal, Sarung Tangan, Masker, Sepatu-Kaos Kaki, dan Topi rajut. Itu pun apabila tidak tahan dengan dingin. Bila tidak maka kalian akan dipusingkan oleh tawaran para penjual di kawasan Bromo.

Penderitaan para wanita ini tidak berhenti begitu saja karena perjalanan menggunakan Jeep masih cukup jauh dengan jalanan yang lebih berkelok lagi. Saya sarankan untuk tidak menggunakan Jeep lebih dari 5 atau 6 orang. Karena, apabila berlebih kalian akan sulit bernapas dan cepat merasa mual. Saya sempat menggunakan Jeep berisi 7-8 orang. Rasanya sungguh-sungguh sempit dan mual. Mungkin disamaratakan dengan harga perjalanan yang murah kali yaaa…

Jeep berhenti di depan pintu masuk Point Sunrise. Ternyata, untuk bisa berada di point tersebut, para pelancong harus berjalan beberapa meter jauhnya dari pintu masuk. Yang tidak sanggup bisa menggunakan ojek. Banyak sekali ojek berkeliaran di sana, dengan liarnya menawarkan jasa mereka. Saran saya sih, tawar ojek seharga Rp 15.000,- untuk dua orang apabila merasa tidak sanggup. Tetapi, untuk yang ingin menikmati perjalanan, lebih baik berjalan saja. Udara di sana sangat dingin, tetapi lumayan segar. Jangan lupa membawa air mineral. Kemungkinan untuk dehidrasi sangat besar adanya.

Kala itu, saya menggunakan ojek karena tidak ingin tertinggal dengan rombongan bersama seseorang *yang saya lupa namanya ;__;*. Kami membayar sebesar Rp 20.000,- karena tidak sempat menawar.

Ternyata untuk sampai ke puncak sunrise tidak sebegitu mudah. Kami harus berjalan kaki menaiki beberapa puluh anak tangga hingga akhirnya berada di sana. Berkerumun dengan banyak orang demi sebuah sunrise. Saya sempat menyesal, karena sunrise kala itu terlihat biasa di mata saya. Yang berbeda hanya euforia di sekitar saya. Orang-orang berteriak heboh seakan belum pernah melihat fenomena ini. Sedangkan, saya sudah sering melihatnya di atas Keraton Baubau dan di Pantai Parigi. Malah saya merasa kesepian di sana.

image

Euforianya yang bikin beda

Teman rombongan saya sudah tersebar ke mana-mana. Yang di dekat saya kebanyakan terdiam menunggu sunrise. Jadi, saya hanya menghabiskan waktu dengan memotret kegelapan. Memotret euforia para manusia. Sejujurnya, bila memiliki tripod saya ingin memotret Milky Way karena keadaan langit sedang cerah. Saya bisa melihat gugusan bintang terpendar di sana. Akan lebih jelas lagi bila dipotret. Sayang, saya tidak punya tempat untuk menumpukan kamera. Lucunya, ketika semua orang melihat ke arah datangnya mentari, saya malah melihat ke atas langit. Berharap bisa melihat Milky Way dengan mata sendiri.

image

Shock... puluhan manusia, ribuan bisa jadi

Hingga akhirnya sunrise belum kunjung muncul. Langit mulai terang. Seorang teman rombongan saya, Dina, mengajak untuk berdiri lebih dekat. Pelan-pelan kami menerobos kumpulan manusia untuk bisa berada di pagar pembatas. Tak beberapa lama berdiri di depan pagar, sunrise pun tiba. Saya memotret dengan luwes. Memotret sunrise, Dina, dan beberapa hal lainnya. Sempat pula Dina memotret saya.

image

Yang dikira nggak mau nampakin diri akhirnya tiba ^^/

image

image

Jilbab merah muda adalah Dina. Saya di sebelahnya

Secara kebetulan, saya bertemu dengan sekumpulan Mahasiswa Malang yang berasal dari Makassar. Seseorang dari antara mereka bahkan anggota Asset (Assosiation of Sulawesi Student) yang terkenal di Pare. Kami berbincang sedikit, kemudian saya dan Dina kabur untuk mendapatkan spot yang lebih menarik.
image

image

Neverland versi Indonesia

image

Lama berdiam di puncak, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan trip ke sekeliling area Bromo. Dari Bukit Teletubies yang kami isi dengan breakfast Bakso Malang (yang harganya 2x lipat dari harga biasa) hingga di kawasan parkiran menuju puncak Bromo. Sayang, saya belum sempat ke puncak karena waktu yang mengejar (salah seorang anggota rombongan harus balik ke Bogor selepas Maghrib menggunakan kereta).

image

Sewa Jeep Rp 600.000,- kalau mau murah ya pakai travel agent atau bawa motor sendiri

image

image

1...2...lompat!

image

Sewa kuda bisa ditawar, jangan langsung bayar!

Setelah ke Bromo, kami tidak segera pulang. Kak Dania dan kawan-kawan ingin mengunjungi Museum Angkut di Batu Malang. Saya sih fine fine aja. Tapi saya tidak sempat masuk ke dalam museum karena kocek yang tidak mencukupi dan lebih memilih menikmati makan siang di luar museum. Ya sebenarnya tidak cukup mahal untuk berkunjung ke Museum Angkut, hanya Rp 75.000,- tapi dengan berbagai pertimbangan saya menolak utuk ikut (kami hanya diberikan waktu setengah jam untuk berkeliling di sana oleh ketua rombongan). Saya bersama 3 anggota rombongan menikmati Sate dan segelas Es Teh di bawah guyuran hujan yang tiba-tiba menghampiri dengan derasnya.
image

Perut terisi, perjalanan pun berlanjut. Kami menghabiskan sisa waktu dengan berkeliling melihat souvenir di pasar apung, tidak lupa saya membeli oleh-oleh untuk anak camp, dan kembali melanjutkan perjalanan kembali ke Pare dengan bus dan sopir yang sama. Tidak lagi duduk di tempat yang sama, saya meminta pindah ke depan bersama Dina. Kecerewetan Dina dan Pak Sopir menghilangkan kebosanan dalam perjalanan, di mana hampir semua anggota rombongan tertidur pulas. Saya, Dina, dan Pak Sopir terus berbincang dan melihat-lihat pemandangan sepanjang perjalanan. Bahkan, Pak Sopir sering memperlambat kecepatan bus untuk memberi saya kesempatan memotret.

image

image

Tidak lupa, oleh-oleh untuk diri sendiri. Postcard Bromo dan Milky Way!!!
image

4 thoughts on “Bromo!

  1. widiiiih, asyik nih seru-seruannya di bromo
    jadi kangen banget maen ke sana, makan bakso di cemoro lawang, jalan kaki tengah malam ke penanjakan, menjelajahi lautan pasir, menjejakkan kaki di atas kawah
    sudah lama sekali nggak ke sana, terakhir ke sana februari 2002
    dulu sebelum taon 2000 lumayan sering maen ke bromo, tapi sayang waktu itu kamera digital belom ada, facebook, twitter, path dan instagram apalagi
    jadinya kalo kangen dengan kawan lama yaa cuma bisa melamun, membuka memori yg banyakan sudah menguap oleh faktor usia
    mungkin itulah kekurangannya era 90-an
    *malah curcol nih, bhahaha
    salam kenal dari gorontalo😀

    • Wiiihhh kerennn… itu bermalam di Bromo sampai jalan kaki tengah malam? Pengen banget… soalnya saya ke sana saja belum sampai liat kawahnya -,-

      Kalau bisa jangan hanya dilamunkan, tetapi ditulis dalam blog hehehe. Salam kenal juga😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s