Pohon yang Buahnya Jatuh Begitu Jauh

Tiba-tiba, ketika malam makin mencekam, otak saya memutar sebuah rekaman kejadian spesial ketika umur saya masih sekitar 10 tahunan. Memori itu masih amat terekam jelas, seakan saya kembali di tahun yang sama.

Kala itu pagi sekali, pukul 06.00 waktu Banjarmasin. Saya berjalan bersama adik saya, Nandi, dan seorang Kakek yang hubungan keluarga kami tidak cukup jauh. Walau tidak begitu dekat juga, saya tetap menganggap beliau sebagai kakek sendiri, sebagai mana saya hampir tidak pernah bercengkrama dengan kakek saya sendiri. Kami berjalan-jalan subuh. Menikmati pagi sembari belajar.

Baru beberapa langkah, kakek bertanya pada kami. “Kamu tahu, kenapa rumah itu punya pagar yang tinggi sekali? Dan ada durinya? Tahu nda?” Beliau berhenti di depan sebuah bengkel yang saya lingkari sebagai tempat angker karena memelihara banyak anjing–yang kadang suka mengejar. Telunjuk tangan kanannya yang sudah keriput menunjuk rumah di seberang bengkel. Rumah tetangga kami yang keturunan Tiong Hoa. Rumah yang sama angkernya, karena peliharaan mereka.

Mungkin karena umur yang masih belia, saya menggeleng tak tahu. Nandi pun melakukan hal yang sama.

Supaya tidak ada pencuri yang masuk. Coba pikir cu, kalau tidak pakai pagar betapa mudahnya nanti para pencuri itu masuk, kan?

Saya mengangguk paham. Nandi pun. Kami tertawa karena kebodohan kami. Meski jawabannya sangat simpel, saya tahu kala itu apa yang beliau ajarkan sangat berarti. Kami masih sangat kecil dan belum paham hal-hal lumrah. Di sepanjang jalan komplek perumahan Gatot Subroto XI itu pun diisi dengan kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan.

Tetapi, rekaman memori itu tercampur dengan sebuah suara. Suara kakek yang menggema dan mengena tepat di ulu hati. Suara itu mengingatkan saya pula akan pengalaman ketika berkunjung ke rumah kakek di Makassar. Saat itu saya sudah duduk di bangku SMP. Saya sudah tidak tinggal di Banjarmasin, sudah bukan anak ingusan yang tidak paham hal-hal kecil.

Saya sedang sibuk melihat-lihat album foto beliau. Kakek saya adalah seorang guide pada masanya. Kerjanya membawa banyak turis berkeliling Indonesia, bahkan hingga ke pulau-pulau terdalam Papua. Ada sebuah foto yang tidak pernah saya lupakan, Kakek sedang berfoto bersama para turis dan kepala suku Papua yang mengenakan Koteka. Foto itu sudah menguning, foto jenis hitam-putih. Antik.

Kemudian saya melirik tumpukan kamus Bahasa Inggrisnya di ruang tamu. Ada banyak jenis. Dari yang terkecil hingga paling besar sekali pun. Tepat pada saat itu saya sedang gila-gilanya menyukai Bahasa Inggris. Dan keinginan untuk menjadi guide pun tercipta. Karena itu, mama bercerita kepada kakek mengenai keinginan itu.

Berbeda dari ekspetasi saya. Kakek malah melarang saya untuk menjadi guide.

Jangan jadi guide, tidak menjamin cu. Jadi guru saja atau pns yang lebih menjamin. Lihat kai sekarang, cu. Rumah kai kecil sekali, hanya bisa berharap sama anak-anak saja. Sudah tidak bisa kerja dan tidak ada penghasilan.

Otomatis kala itu saya menutup pemikiran untuk menjadi guide. Mungkin saya akan menjadi guru bahasa Inggris saja pikir saya kala itu.

Sungguh. Saya pikir ada relasi antara apa yang dikatakan kakek dan apa yang saya hobikan selama ini. Saya memang tidak ingin menjadikan guide sebagai pekerjaan. Malah, saya adalah sosok yang ingin menikmati perjalanannya, menjadi turis! Saya senang Bahasa Inggris, seperti kakek yang selalu mendorong saya untuk belajar Bahasa. Berbeda dengan keluarga dekat saya yang tidak punya hobi yang sama seperti saya, kecuali mama yang suka traveling, kakek seakan menjadi panutan saya untuk menjelajahi dunia.

Kakek pernah berujar bahwa dirinya ingin sekali berkeliling dunia. Namun, karena faktor umur, beliau harus merelakan impian itu.

Walau saya tidak pernah lagi bersua ke rumahnya, saya tidak pernah melupakannya. Beliau adalah salah seorang guru yang berarti buat saya. Beliau adalah kakek yang selama ini saya rindukan sosoknya. Sampai keluarga saya heran mengapa saya selalu ingin mengunjungi beliau di Makassar. Tetapi keinginan itu tidak pernah tercapai setelah kunjungan saya kala SMP. Hanya kadang kami bertemu di acara keluarga.

Saya dengar penyakit Kakek sudah mulai sulit diobati. Ingin sekali rasanya mengunjungi beliau, kapan-kapan. Saya ingin bercerita banyak hal mengenai perjalanan saya selama ini dan bagaimana saya mencintai perjalanan itu. Saya ingin bercerita bahwa akhirnya saya pernah berbicara dengan banyak turis mancanegara ketika saya berkunjung ke Borobudur.

Bila bercerita mengenai beliau, saya selalu menilai bahwa peribahasa Buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu tidak selalu benar. Karena saya dan kakek seperti Buah yang jatuh jauh dari pohonnya. Ehehehe

N.p

Bercerita tentang Kakek selalu buat saya ingin menangis. Saya merindukan beliau, rindu untuk bercerita banyak hal. Sekarang, cucunya yang jauh ini makin jauh saja sejak memutuskan untuk merantau. Saya ingat kakek pernah memberi saya nasihat untuk Menuntut Ilmu Hingga ke Negeri Cina😀 karena baginya, belajar adalah hal yang diwajibkan bagi manusia.

5 thoughts on “Pohon yang Buahnya Jatuh Begitu Jauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s