Tanjung Karang, Nirwana versi Palu

image

Desember lalu saya sempat balik ke Palu selama 10 hari. Dalam waktu singkat, saya diajak menikmati wisata yang ditawarkan salah satu Kota Khatulistiwa itu. Salah satunya, yang saya favoritkan, ialah Pantai Tanjung Karang yang terletak di Kota Donggala. Dari Palu, kami hanya memerlukan waktu selama setengah jam menggunakan mobil. Selama perjalanan kita tidak akan bosan, akan ada banyak hal yang dipandang mata, misalnya tambang-tambang pasir yang entah legal atau ilegal.

Masuk ke Tanjung Karang tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Walau pun dibandingkan dengan Pantai Nirwana di Baubau akan cukup jauh perbandingannya. Jadi, masuk ke Tanjung Karang tidak perlu dibayar, hanya cukup membayar parkiran kendaraan. Tetapi, bayaran aplikasi yang lain cukup membuat dompet terkuras, ada baiknya bila berkunjung ke Tanjung Karang berombongan atau bersama keluarga. Karena sewa rumah panggung yang digunakan sebagai villa dipatok dari harga 150K-300K. Pilih villa yang ada toiletnya, ya. Ada juga Bale-bale di pinggir pantai yang harganya pasti lebih murah lagi!

image

Dari rumah panggung

image

Zoom zoom

image

Nah, saya ke Tanjung Karang bersama keluarga besar bapak yang tinggal di Palu. Jadi bayaran sewa tidak terlalu membengkak. Liburan saya kala itu benar-benar di luar ekspetasi meski mentari tidak ubahnya bersinar sangat terik.

Pertama-tama, setelah berganti baju dan menggunakan lotion untuk Sinar UV *atau apalah itu* saya, saudara, dan bapak diajak oleh sepupu saya untuk berendam di salah satu sisi Tanjung Karang yang tidak panas. Di sana kami melewati resort khusus turis mancanegara yang dipenuhi oleh badan-badan berbikini yang sengaja ingin menghitamkan kulit. Jarang melihat mereka berendam, kebanyakan hanya berjemur di bawah terik matahari yang menusuk-nusuk kulit.

Sembari bercerita sedikit tentang keadaan pantai di waktu lain, sepupu saya pun mengajak untuk snorkling dengan peralatannya. Karena tidak tahu berenang, saya menolak. Oh ya, Pantai Tanjung Karang tidak jauh berbeda dengan Pantai Nirwana di Baubau. Pasirnya putih bersih dengan air yang jernis. Bedanya, Pantai Nirwana terlihat lebih luas dibandingkan Tanjung Karang yang sempit. (Mungkin karena air laut yang pasang).

image

Bandingkan dengan Pantai Nirwana Baubau

Di sisi favorit sepupu saya ini, kalian bisa menemukan banyak karang dan ikan-ikan kecil tidak jauh dari daratan. Bebatuan yang terbentuk di daratan pun menjadikan sisi ini lebih tertutup dari sisi lain pantai. Tidak banyak yang mengunjunginya, hanya segelintir orang yang memakai sepatu katak dengan kacamata renangnya.

Setelah asyik berendam, saya beranjak ke tempat Mama. Beliau tertarik dengan Banana Boat dan segera mengikuti intruksi keluarga lain yang juga sama tertariknya. Sewa Banana Boat juga tidak terlalu mahal, saya lupa berapa, tapi tidak perlulah takut dengan keadaan kantung. Saya sempat bergidik ngeri melihat pemandangan bagaimana benda berbentuk seperti Hot dog itu melemparkan kawanan manusia ke dalam air. Teringat sejarah kelam saya dengan baju pelampung, apalagi dengan keadaan diri yang tidak tahu berenang.

Tetapi, karena rasa penasaran yang terus menggema. Akhirnya saya ikut kloter kedua Banana Boat. Kali ini cukup spesial karena diisi oleh saudara sepersepupuan yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Saya, Kakak sapi, dan ketiga sepupu saya pun bersiap dengan pelampung, kamera, dan tongsisnya. Kami tidak pernah saling kenal sebelumnya sama-sama berteriak kegirangan–ada juga yang ketakutan–terhempas dibawa oleh boat gandengan. Kak Arfat, si pembawa kamera yang berada di depan saya begitu luwes merekam kejadian ini dengan slogannya My Trip My Adventure. Sedangkan Kakak saya yang berada di barisan kedua dari belakang berteriak kesetanan memanggil Mama.

image

Selfie sebelum terhempas

Hempasan di belakang lebih dahsyat memang dibandingkan hempasan di depan. Kasihan dia.

Cukup lama dibawa berputar menyusuri pantai, akhirnya si Hot Dog menghempaskan ‘bakteri’nya ke dalam air. Saya kelabakan. Dan hanya bisa meringis kepada pemilik Banana Boat yang akhirnya membawa saya ke daratan. Baju pelampung memang salah satu mimpu terburuk saya, karena badan yang tidak pas akhirnya baju itu menenggelamkan badan saya. Hanya kepala dan kedua tangan saya yang mampu mengapung bersama baju itu.

Sedih memang.

image

Prepare

Setelah bermain Banana Boat, kami beristirahat dengan menikmati makan siang di rumah panggung. Piknik ala keluarga. Ada Ikan Bakar dan sebagainya tersedia masih hangat. Perut kenyang, saya pun menyudahi proses berendam.

Tetapi tidak sampai di situ saja. Setelah berganti baju, saya pun diajak oleh Bapak untuk menaiki sebuah perahu kayu yang khusus digunakan untuk berkeliling Pantai sembari melihat karang di bawah laut. Hanya perlu menyewa seharga 30K (harga bisa lebih, perlu ditawar!), si empunya kapal pun membawa kami ke tenpat-tempat strategis para karang cantik. Saya terpana. Dengan keadaan air yang jernih, saya bisa melihat dengan jelas ikan bermain-main dengan karang.

image

Sisi favorit kala air surut

image

Tarik maaangg!!!

Tidak hanya sekali, saya juga ikut dalam kloter kedua. Kali ini, bahkan, keluarga kami meminta dengan khusus si pemilik perahu untuk membawa mereka hingga ke pelabuhan Kota Donggala. Di pelabuhan kami bertemu dengan kapal-kapal penangkap ikan. Pemandangan Kota Donggala pun kami lahap sedikit. Pulangnya saya merileksan diri dengan merendam kaki di dalam air, mengikuti perahu yang berjalan kembali ke Tanjung Karang.

image

Tanjung Karang dari kejauhan

Weekend yang tak terduga. Saya pikir Palu hanya memiliki pantai-pantai berpasir hitam seperti Pantai Talise dan Pantai Kampung Nelayan. Ternyata Palu juga memiliki Nirwananya. Walau saya tidak bisa berenang, entah, saya sangat menyukai pantai. Apa mungkin karena terbiasa dengan pantai yang ditawarkan di Baubau membuat saya selalu ketagihan bermain air dan pasir.

Yang jelas, saya tidak akan pernah lupa betapa berharganya objek-objek di Pantai yang dapat diabadikan lewat lensa kamera mau pun mata.

image

Pantai Talise

N.B
Sepertinya saya naik perahu kayu itu sebanyak 3 kali. Sepertinya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s