Anak Berbola Mata Besar

Aku tercenung menatap jalan Godean yang begitu ramai dipadati lalu lintas. Terhitung sudah lima hari kehadiranku di sini, di Kota Yogyakarta. Sebuah kota yang ku putuskan sebagai tempat pelarianku selanjutnya dalam gempita zona nyaman di tanah kelahiran. Aku tidak bisa menilai apakah pelarianku adalah jalan terbaik atau bukan karena aku baru memulainya.

Kakak perempuan dan Mamaku sedang asyik mengobrol dengan sopir milik salah satu teman mama yang bertugas mengantar kami ke sebuah perumahan. Di sana kami akan menghabiskan waktu sehari semalam untuk menginap sekaligus bersilaturahmi pada seorang teman mama lainnya. Ada banyak teman mama di Yogya, mereka rebutan ingin kami menginap di tempat tinggal mereka di Yogya. Sungguh beruntung memang, tapi hal itu membuat mama bingung dan harus menentukan jadwal menginap sendiri.

Mama sudah mulai tenang di hari kelima. Besok, beliau dan kakakku akan beranjak dari ranah Yogya kembali ke tanah kelahiranku untuk mengurus segala hal berkaitan pernikahan kakakku yang akan diadakan 3 bulan mendatang. Tidak terasa. Sedangkan aku akan tetap tinggal di Yogya. Memutuskan untuk merantau. Asal tahu, aku satu-satunya anak mama yang ingin merantau. Tidak perlu kata takut atau pun berani. Yang terpenting bagiku adalah terus berjalan dan mencoba apa yang ingin dicoba oleh hatiku–ya, ini bukan soal berani atau tidak, bukan?

Cuaca di luar mobil sedang mendung dan mas sopir bertanya begitu melihat patokan untuk berbelok ke kompleks perumahan. Pikiranku yang mumet, kebingungan akan bagaimana hidupku ketika mama dan kakak beranjak, teralihkan oleh seorang anak kecil berjaket kuning di motor sebelah. Dia diapit oleh kedua orangtuanya. Matanya bulat sempurna, kulit wajahnya mulus seperti bayi kebanyakan, berwarna putih susu dengan pipi yang tembem. Entah ada angin apa, aku tersenyum melihatnya. Betapa aku mencintai anak-anak. Tatapan mereka begitu polos dan mendamaikan.

Bukan kebetulan atau pun takdir. Anak itu ternyata melihatku. Mata bulatnya melebar dan senyumnya merekah manis, semuanya untukku! Kami bertatapan dalam waktu yang cukup lama hingga bayangnya hilang ditelan kepadatan motor. Mobil yang ku tumpangi pun berbelok, menyulitkanku untuk mencari-carinya di balik keramaian. Sungguh, senyum yang ku rindu. Oh adik berbola mata besar.

Belum ada semenit. Aku segera ingin melihatnya lagi. Sebuah senyum yang membuatku seperti sedang menari di angkasa. Anak yang tampan. Ingin rasanya aku menjadi anak seumurannya dan takdir sengaja mempertemukan kami di lain waktu.

Oh tentu aku bukan pedofil. Aku hanya suka dengan anak-anak dan dunia mereka yang penuh imajinasi.

NB:
Kejadian nyata yang baru saya alami siang tadi. Tidak pernah akan ada kata benci untuk anak-anak. Mereka selalu membuat hari saya berwarna dengan paket tatapan polos dan senyum manis mereka. Mau deh ketemu anak berbola mata besar itu lagi! Saya jatuh cinta pada pandangan pertama padanya ^^

6 thoughts on “Anak Berbola Mata Besar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s