Kita dan Teknologi

Bukan sebuah hal yang bisa saya banggakan begitu hati saya dapat mencurahkan  kata-kata indahnya dalam secuil bait puisi yang saya kirimkan padamu. Total dua puisi yang saya ketik hari ini. Susah payah saya rangkai puisi kedua karena kamu memintanya, dan saya tidak suka berkata tidak.

Puisi pertama tiba begitu kamu memperdengarkan saya sebuah suara deburan ombak yang menimpa kakimu. Suara yang damai dari buih-buih ombak yang menghilang begitu tiba di pinggir tempatmu berdiri, mengasingkan diri dari keramaian kota. Ya, saya harap kamu tidak melakukannya untuk membuat saya terpana–karena hati saya mencelos begitu mendengar suara ombak darimu. Saya rindu dengan bau nyinyir udara pantai.

Di sini, sebuah kota yang jauh dari pantai, saya merasakan hawa pantai yang datang dari rekaman suara yang kamu kirim. Apakah kamu tahu bahwa saya suka dengan pantai hingga kamu sengaja mengirimkan rekaman itu kepada saya?

Saya tidak tahu pasti itu. Tapi kita belum saling melihat satu sama lain, kita belum pernah mengenal lebih satu sama lain. Kita… ya, kita hanyalah sebuah bentuk hubungan rumit yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kamu pernah bertanya pada saya memastikan bahwa kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya. Ya. Sampai saat ini pun saya tidak pernah tahu bentuk wajah kamu seperti apa. Bukankah kita hanya korban kekejaman dunia teknologi yang semakin pesat berkembang?

Saya tahu, kamu mungkin akan menyimpan puisi-puisi saya di dalam buku catatan dan memfilmkan hubungan rumit ini dengan krumu di sana. Dan saya tahu bahwa sesungguhnya kamu khawatir sekaligus tidak bisa menerima jenis hubungan aneh ini. Karena saya pun begitu adanya. Kisah kita seakan bertugas sebagai penyalur inspirasi sekian. Inspirasi untuk kisah yang kita–kamu dan saya–buat dalam bentuk berbeda.

Apakah kisahmu berakhir dengan Happy Ending?

Atau Kisah saya yang berakhir dengan Sad Ending?

Kita berdua adalah penentu. Bukan hanya menentukan imajinasi liar kita, tapi juga penentu hubungan rumit ini.

Karena, saya dan kamu hanyalah korban dalam teknologi modern ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s