Berhenti untuk Belajar

Jurnal hari kelima dalam perjalanan Point Zero.

Saya masih bertahan di kosan. Menikmati khayalan dan anime yang ternyata membuat saya ketagihan untuk menontonnya. Buku ketiga saya lalap, tidak semuanya habis. Sketch book yang masih kosong, goresan bekas robekan menemaninya. Tiada pensil untuk ikut menemani karena tangan saya terlalu takut untuk merusak karya dengan pulpen bertinta hitam yang banjir. Sedangkan sang jurnal masih sabar ditulisi pulpen yang tintanya merebak ke sana ke mari, bersama tulisan yang cakar ayam.

Tiada teman laptop pun jadi. Anime dan halaman soal saya lalap sedikit demi sedikit. Oh tentu saya tidak belajar dengan baik, karena saya masih cukup malas melihat penjelasan yang ditaburi bubuk lelap.

Hati dan pikiran sampai kapan pun belum sinkron, karena keduanya sedang menyusun strategi baru. Sedang mengumpulkan energi yang sempat habis dimakan lelah. Mereka sedang belajar. Pelan-pelan, meski khawatir terus menghantui.

Tapi hari ini keduanya sadar. Ada hari di mana mereka harus berhenti sebentar untuk belajar lebih, untuk merelakan hal lain, dan menunggu kesempatan yang berikutnya. Bukan berarti kalah atau sudah didahului oleh yang lain, tapi mereka benar-benar sedang berusaha untuk menjadi lebih kuat. Dengan belajar.

Terima kasih Law!

5 thoughts on “Berhenti untuk Belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s