Agenda Hari ke-6

Petir menyambar-nyambar ketika saya dihantui penasaran oleh anime yang sempat saya tinggalkan sejak beberapa bulan lalu, tepatnya setahun lalu. Hari ini saya memutuskan untuk tidak belajar satu materi pun dari pelajaran kelas sosial, kepala saya sudah mumet mendengar obrolan masa lalu Jimbei dan nakamanya sampai ingin cepat-cepat menghabisi episode arc. Kepulauan Manusia Ikan. Ya, pikir saya otak juga butuh sedikit hiburan dikala sumpek dengan berbagai pilihan jalan.

Dan petir makin menjadi-jadi, bersama guntur, dan tetesan air di langit. Sudah hari keempat. Hujan tidak pernah absen setiap harinya di ranah Yogyakarta. Petirnya pun tidak biasa karena ia menghantui saya hingga di dalam wc. Mempertontonkan saya kilatan biru yang pendarnya tercermin dalam dinding ubin. Seperti berada di dalam dongeng ketika seorang peri merapalkan mantra khusus sembari menggoyang-goyangkan tongkat sihirnya dan Wusssss! Epik sekali.

Kemudian, mata saya berpendar di atas kasur. Mendapatkan buku Petir karangan Dee teronggok bersama Jurnal dan Scretch Book yang masih kosong. Oh. Saya tidak tahu ini kebetulan atau memang sudah direncanakan, tetapi ketika berhadapan dengan serial Supernova… ada saja bab yang seketika salah satu gambarannya menimpa saya. Oke. Mungkin saya terlalu parno atau imajinasi saya terlalu liar.

Saya pikir, mungkin saya harus menghabiskan isi Petir hingga teror hari tanpa hujan dan kawanannya berhenti membuat saya ketakutan. Sebenarnya tidak takut, tapi hanya khawatir. Imajinasi liar saya menggambarkan keadaan langit yang berwarna merah ditambah petir yang menyambar-nyambar. Apalagi dengan pijakan saya yang tiba-tiba bergetar akibat petir.

Dalam salah satu bab, seorang tokoh menjelaskan bahwa Petir adalah bentuk dari pemecahan masalah si bumi. Kurang lebih begitu. Ketika bumi dan langit ingin menyinkronkan diri, membereskan masalah yang ada dengan menimbulkan petir yang tercipta dari elektron… bla bla bla. Ah… begitulah. Saya tidak melewatkannya, tapi kepala saya terlalu mumet.

Mumet akibat terlalu lama menatap layar laptop dari pagi hingga malam hanya untuk mengejar episode yang belum kunjung habis, masih on going pula. Terus, mata saya kembali dipaksa dengan membaca deretan kalimat dalam sebuah buku novel oleh si otak yang juga penasaran dengan kisah Elektra dan Mpret. Satu jam lebih non stop. Ketika buku itu tandas, saya hanya bisa mengembuskan napas. Bukan puas. Saya makin dibuatnya penasaran. Dasar serial.

Tidak pelak mata saya makin minus. Semoga tidak mencapai angka satu. Nol koma dua lima saja sudah cukup.

Ya begitulah singkatnya agenda saya hari ini. Ditutup dengan lampu yang saya padamkan, meski sedikit takut, yang membuat saya harus membayangkan hal-hal indah sebelum tidur. Misalnya berpacaran dengan artis Korea atau nge-date dengan pacar impian di arena es sketing. Tapi biasanya diakhiri dengan rapalan dzikir karena imajinasi itu kadang sedikit menyakitkan.

Agak membosankan iya. Tapi tadi pagi saya sempat hampir kesasar lagi di Jalan Kaliurang, untuk mendapatkan satu jalan alternatif yang belum saya dapatkan hingga saat ini dari membeli dua dos KFC Mahasiswa Yogya. Jalan alternatif yang membuat saya tidak ngos-ngosan ngenjot pedal sepeda di jalanan besar. Sempat dapat sial dengan bungkusan dua es teh yang tergoncang di atas keranjang sepeda, yang kemudian pecah dan berakhir di tempat sampah bambu. Kemudian mendapati penjual Minuman Cokelat, yang penjualnya adalah mahasiswa ganteng, yang tutup. Hingga lupa singgah ke Indomareet untuk beli buah yang konon bisa menyegarkan kepala saya selama seharian.

Tapi, bukan sial namanya kalau tidak ada hikmah dibaliknya. Karena sepulang dari pekerjaan memusingkan kepala itu, saya mendapat satu cup Ice Cream Cokelat–yang ternyata juga memusingkan kepala (saya sedikit anti dengan cokelat)–satu bingkisan plastik indomareet berisi potongan semangka, roti sari roti cokelat (oh cokelatttt), dan keripik jagung dari teman mama yang ketika saya datang telah beranjak.

Syukurlah. Uang saya tidak habis sia-sia di Indomareet.

Dan… entah mengapa hari ini saya tambah sadar bahwa selama ini, ternyata, saya bukanlah wanita tulen. Mungkin bila saya tidak memutuskan mengenakan jilbab, sepenuhnya saya akan dilihat seperti pria sebagaimana teman-teman saya mengatai bahwa saya adalah pria berjilbab. Lucunya saya kembali tampil nyentrik pagi ini bersama sepeda biru bekas seharga sepeda baru kalau di Pare. Bukan nyentrik yang baik, tapi nyentrik yang tidak pas. Tapi kan orang Yogya udah nggak mudeng untuk memperhatikan orang, kan? Kan?

Ah. Otak wanita saya muncul dengan ide untuk merubah tampilan untuk lebih uhk… feminim. Nggak janji. Karena seseorang pernah berujar pada saya, take this life easy b**ch. Oke. Tapi saya bukan *****.

But, I truly cannot forget what my sista has ever said to me after her friends and juniors in university met me. She said, “kamu memang pendiam, kerjanya baca buku di sekre sampai orang-orang tidak berani sapa kamu. Wajahmu terlalu serius. Senyum dikit, kek. Dekil lagi. Sepulang dari Pare kamu sangat sangat sangat dekil. Kayak tidak pernah terurus. Pakai sendal gunung pula. Tidak heran memang kalau kamu dikira anak teknik.”

Sial. Bukan perkara dikira anak Teknik. Sial saja. Karena ternyata saya dekil dan masih jutek.

Satu agenda tambahan hari ini. Saya berteleponan dengan Uya, soulmate hunting saya di Baubau yang hobinya suka disibukkan oleh kepentingan orang lain. Dia di Malang, sedang banyak pikiran. Padahal hari ini ulang tahunnya yang ke-19. Sudah tua, cih. Seharusnya dia berpikir apa yang harus dilakukannya untuk menciptakan hal gila baru diumur kesembilan belas. Selamat Menjadi Tua, by the way. Terima kasih untuk makin menyadarkan saya bahwa saya bukan wanita tulen. Saya malah sangsi kalau kamu Pria tulen *becanda.

Maaf, saya tidak bisa ikut dalam rancangan lomba gila baru kamu untuk menghitung seberapa banyak tempat yang akan kita datangi kelak. Pasalnya, saya pasti sudah menang karena sejak masih dalam kandungan saya sudah nomaden. Dan juga, saya sadar bahwa backpacker sendirian itu tidak seseru backpacker bareng teman. Saya cuma pengen kita backpacking bareng. Kita bareng atau kamu dan teman-temanmu atau saya dengan teman-teman saya. Pokoknya begitulah. Tapi tunggu saja sampai saya yang mencanangkan lomba itu. Kamu pasti ikut berlomba. Dan saya yang pasti menang.

Oke. Agenda saya tutup untuk hari ini. Hujan masih setia di luar sana. Menunggu saya terlelap. Mungkin besok kegilaan ini tidak akan bertahan. Bukan special post pula buat soulmate hunting. Tapi ini special post buat kepala saya yang akhirnya jujur akan tabiatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s