Agenda Hari Ketujuh

Kemarin hujan menemani tidur saya hingga saya terbangun bunyi tik tik air yang terkena genteng di bawah kamar saya (atau apalah namanya itu) tetap berbunyi dengan teratur. Otomatis saya memanjakan diri dengan terlelap ditemani lagu-lagu mendayu. Karena tidak suka bangun kesiangan, saya pun memaksa diri untuk membuka mata pada pukul 08.00 pagi dan melakukan ritual pagi seperti biasa.

Setelah merasa harum, saya pun menyalakan laptop dan melanjutkan ritual pagi dengan menonton anime yang sudah membuat saya penasaran tiada habisnya. Tidak sampai 10 menit. Ponsel saya berbunyi, seorang nakama dari Pare menelpon saya. Sebut saja Bass. Ya, anggap saja dia alat musik atau terserah imajinasi anda. Dia meminta saya menemuinya di Neutron Kaliurang Km 5. Dengan tidak sabaran.

Saya pun bergegas perlahan dan mengenjot pedal dengan kencang. Masih dengan tidak sabaran, di tengah perjalanan Bass menelpon saya. Peluh sudah memenuhi wajah dan napas yang terengah-engah, saya menjawabnya dengan sebal. Pasalnya anak itu mengeluh kepanasan akibat menunggu saya di sana. Padahal kan, harusnya saya yang mengeluh kepanasan. Tapi biarlah, mungkin dia perawatan sampai tidak bisa terkena matahari selama lebih dari 5 menit ;p

Fyi, jarak kosan dengan tempat bimbel saya itu–neutron–memang cukup jauh.

image

Kasian...

Sesampainya saya di dekat neutron, Bass tersenyum cengengesan dengan jaket merah dan motor mio yang mirip si Utih. Dia tidak tahu kelelahan saya. Tapi saya tertawa juga, entah kenapa. Saya menjelaskan dia perihal perjalanan saya yang cukup jauh dan bla bla. Sampai saya memintanya untuk membawa saya jalan setelah memperlihatkan jalanan menuju kosan.

Dan perjalanan pun dimulai. Berbekal google map, saya dan Bass membelah jalanan Yogyakarta yang ramai. Tidak jelas tujuan kami, si Utih 2 dibawa berkeliling saja. Sampai akhirnya Bass ngomong tentang Shopping, tempat penjualan buku-buku bekas dan un-original yang terkenal di Yogya. Kami pun melaju, kali ini dengan tujuan pasti.

Sesampainya di Shopping, dengan ice cream cone yang berada di tangan masing-masing, kami melihat-lihat buku yang diatur sedemikian rupa oleh para pemilik toko. Kami juga ngobrol tentang beberapa buku, seperti kegilaan Bass dengan Tan Malaka dan buku sejarah masyarakat Bugis (sampai memperlihatkan baju Tan Malaka yang dikenakannya). Kalau saya, yang masih suka buku apa saja yang menarik, hanya melihat-lihat dan memberitahukannya mengenai beberapa buku yang pernah saya dengar sebelumnya. Sampai akhirnya saya melihat buku karya Y.B. Mangunwijaya berjudul Burung-Burung Rantau.

Buku BBR–sebut saja begitu–sudah saya incar dari tahun lalu ketika saya melihat promosi Gramedia di Twitter. Saya tertarik karena, ya, ada kata merantau di sana. Bass sempat berujar bahwa yang dimaksud dengan Burung-Burung Rantau adalah kita. Saya mengamininya.

Kemudian tidak berhenti sampai situ, perjalanan mengincar-incar buku tetap berlanjut. Di sesi terakhir, saya melihat sebuah dongeng karya orang Indonesia, yang judulnya ada kata Nebula dan Nibilu (kalau tidak salah). Bukunya berbentuk unik, seperti kitab-kitab sihir dalam serial Harry Potter. Saya menahan diri untuk membelinya, meski ada uang yang sangat cukup di dompet. Mungkin, beberapa minggu kemudian saya akan kembali di sana untuk membelinya. Saya penasaran dengan pergerakan tangan Indonesia dalam menulis dongeng modern sebagaimana orang Indonesia sangat pintar menciptakan legenda, cerita rakyat, dan dongeng pada zaman dahulukala.

Alasan lain adalah karena saya suka dengan dongeng.

Setelah puas melihat-lihat di Shopping, saya dan Bass melanjutkan putar-putar jalanan Yogyakarta yang lumayan banyak dan membingungkan. Saya tidak lagi menjadi Navigator google map karena berpikir Bass tahu jalan. Ternyata oh ternyata.

image

Kasian...

Pusing berputr-putar tidak jelas. Bass akhirnya membawa saya ke kontrakannya. Saya mengisi waktu dengan membaca beberapa lembar buku Musikolofobia (aduh… saya lupa judulnya apa). Omong-omong, teman kontrakan Bass adalah anak ISI Pascasarjana. Seorang pemain biola yang lumayan terkenal di kalangannya. Saat ini temannya sedang melakukan penelitian di Bone. Ya, Bass banyak menceritakan saya tentang pemusik itu. Saya juga sempat ngobrol dengannya lewat telepon yang menghasilkan sebuah keputusan telak bahwa, ya, saya akan kuliah!

Dalam satu bab buku yang saya baca, mengenai musik, saya sempat tertawa memikirkan betapa picisannya beberapa komik dan novel romance yang bercerita tentang pemusik–yang harus menghentikan karir musiknya akibat keram jari. Padahal ada cara yang dapat menyembuhkan hal itu, tapi saya tidak baca secara kesuluruhan, dan memikirkan bahwa tokoh-tokoh fiktif itu mungkin tidak benar-benar tahu soal bidangnya dan sangat cepat menyerah. Ya, namanya juga fiksi.

Tidak lama berdiam dengan buku musik, saya dan Bass pun melanjutkan perjalanan kembali ke Kaliurang untuk makan siang–atau makan sore. Lagi-lagi, karena malas mencoba makan di warung lain, saya merekomendasikan Warung Sambal SS yang tidak jauh dari kosan saya. Di sana kami makin dengan khidmat, diselingi obrolan mengenai Pare, One Piece, dan Bimbel.

Kami bercerita mengenai perjalanan kami setahun sebelumnya. Mengenai pelarian Bass yang belum terpikirkan pada kuliah dan saya yang memang memilih Pare sebagai tujuan selepas lulus SMA. Kami berdua sadar bahwa perjalanan kali ini tidak semudah perjalanan kami di Pare, yang Bass pikir dulu sulit. Tapi dia menekankan kata Let it flow atau bla… saya lupa. Karena itulah kekuatannya selama di Pare, yang kemudian menjadi tempat yang sulit dilupakannya. (Aseekk).

Kami berdua memiliki rencana yang sama, untuk kembali ke Pare bila ada kesempatan. Meski nantinya kami akan bertemu dengan orang yang berbeda lagi, dengan sistem ASSET yang juga mungkin akan berbeda. Sungguh, Pare memiliki kekuatan sendiri untuk memberikan harapan dan kesungguhan bagi para merpati yang sempat singgah di sana. (Seseorang pernah berkata bahwa orang dulu meyakinkan bahwa Pare adalah tempat Merpati-Merpati singgah. Dalam hal ini mereka yakin bahwa Pare akan menjadi tempat persinggahan banyak orang dari seluruh penjuru Nusantara).

Yah agenda saya pun tidak berhenti dalam perjalanan berkeliling dengan Si Utih 2 dan Bass. Karena ketika malam tiba, saya berteleponan dengan banyak orang. Lagi-lagi kawan dari Pare. Mereka sering curhat kepada manusia yang tidak punya kerjaan ini, mengenai perkembangan Bahasa Inggris mereka, tentang camp atau asrama Asset, dan kisah cinta mereka.

Saya sebenarnya tidak pernah berekspetasi akan begitu langgeng dengan teman-teman di Pare, mengingat saya paling malas bergaul. Apalagi terhitung hubungan kami yang hanya terjalin tidak sampai setahun. Tetapi, kebersamaan dan pengalaman yang telah kami lewati menghilangkan sekat ketidakpedulian itu. Maka tidak pelak saya sering memanggil mereka sebagai saudara.

Saudara seperjuangan, setanah kelahiran, dan sebahasa (dalam hal ini Asset).

image

image

image

2 thoughts on “Agenda Hari Ketujuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s