Agenda Hari Kesembilan

Seperti yang sudah direncanakan, saya bergegas ke tempat bimbel pada pukul 09.40 WIB dari kosan. Saya menghitung perjalanan saya menggunakan sepeda ke tempat bimbel yang ternyata makan waktu 15 menit. Sesampainya di sana, jari saya pun didaftarkan dalam absen sidik jari berlanjut pada pembagian modul dan duduk-duduk tidak jelas di dalam sebuah ruangan. Karena tidak memiliki kenalan, mau pun sense untuk berkenalan, saya pun hanya mengisi waktu dengan membaca buku The Years of the Voiceless karangan Okky Madasari.
image

Bukunya full Bahasa Inggris, ada beberapa kata yang sulit saya pahami tapi saya paham inti ceritanya. Kisahnya menarik, hal-hal lumrah yang kadang kita lewatkan ditulis Okky di dalam bukunya. Penuh dengan kenelangsaan pola pikir manusia. Batas-batas yang dibuat oleh manusia sendiri dipertanyakan di dalam buku ini. Ya, meski belum ada seperempat isi yang saya baca.

Kemudian, cukup lama, saya dan calon teman-teman bimbel saya dipanggil ke ruang yang ada di lantai 2. Di sana kami dijelaskan mengenai jadwal, pendaftaran sbmptn, sistem bimbel, dan sebagainya. Saya yang sudah pernah mengikuti sbmptn sebelumnya masih hapal tata cara tersebut, jadi saya mendengarkan kembali takut ada yang berbeda.

Sempat saya berkenalan dengan seorang gadis mungil yang tembem, saya lupa namanya, yang datang dari ranah Jawa Barat. Dia anak pesantren kelahiran Yogyakarta. Lulusan tahun ini. Well, rasanya agak beda karena saya dipanggil mbak. Saya pikir, sebisanya, fakta bahwa saya alumni harus ditutup rapat-rapat meski itu tidak akan pernah terjadi.

Selepas itu saya kembali ke kosan dan singgah ke Indomareet untuk menyegarkan kepala. Saya freak dengan buah-buahan, jadi dalam seminggu sebisanya saya membeli buah untuk dimakan. Sistem penyegaran kepala dan tubuh namanya. Tidak lupa saya beli pensil 2B untuk mulai mencoret-coret skretch book. Potensi saya dalam dunia menggambar harus saya asah kembali. Sayang bila saya menyia-nyiakan hal itu, bukan?

Karena perut mulai memberontak, saya pun singgah ke warung burjo yang sayang nasinya belum matang, jadi saya kembali ke kosan tanpa hidangan utama. Selama dua jam saya melakukan hal lain dengan makan buah juga menggambar–yang gambarnya gagal total. Tangan saya sudah tidak terbiasa untuk menggambar, jari-jari saya kaku dan saya tidak bisa menyeimbangkan gambaran saya. Bahkan, saya berpikir adik saya lebih pro dibandingkan saya yang dulunya lebih pro hehehe. Adik saya memiliki potensi yang besar dalam dunia animasi, tetapi wawasannya masih belum terbuka hingga enggan menggunakan imajinasinya sendiri dalam menggambar.

image

Nol besar :v

Tidak tahan. Saya beranjak ke warung burjo untuk membeli makan.

Ketika di tengah-tengah proses pembakaran energi, tab saya bergetar. BBM dari kakak kelas saya waktu SMA yang memastikan rencana nonton The Avangers. Saya iyakan. Sembari menunggu informasi, saya berbaring di kosan ditemani lagu-lagu mendayu. Hobi saya yang suka melirik di balik jendela, melihat gumpalan awan kelabu di langit yang berarak menjauh. Gerimis sempat datang, kemudian beranjak entah ke mana.

Selepas Ashar saya pun bersiap-siap, takut Kak Eja–sebut saja seperti itu–tiba di depan kompleks perumahan kosan sebelum saya bersiap diri. Benar saja karena beberapa menit kemudian dia mengirimkan saya LINE–karena BBM saya punya penyakit pending luar binasa–bahwa dirinya sudah berada di depan kompleks. Saya pun menghampirinya.

Dia segera memberikan saya dua tiket bioskop dan mengantar saya ke warung Burjo sembari menunggunya mencari helm. Ada 40 menit saya menunggunya dan kami pun beranjak ditemani senyum menggoda Mang Burjo.

Di jalan, ya… tahulah, kami bercerita banyak hal meski sebenarnya saya tidak begitu mendengar akibat deru kendaraan di jalanan yang bising. Kak Eja orang yang cukup supel, tidak pelak saya comfort dan bisa bercerita banyak hal tanpa mengeluarkan jurus diam seribu bahasa yang biasa saya gunakan pada orang-orang yang tidak terlalu saya kenal. Jujur saja, Kak Eja adalah salah lima kakak kelas yang saya kenal baik. Kami memang jarang tukar kabar, tetapi bila bertemu obrolan kami bisa nyambung.

Kak Eja sebenarnya cukup bingung mengapa saya tidak begitu kenal dengan kakak kelas di sekolah. Dia menyebutkan beberapa nama yang saya jawab dengan dua kata “tidak kenal” atau pertanyaan balik “siapa itu?”. Ya. Kejutekan saya adalah penyakit yang perlu dibasmi.

Sesampainya di Cinema XXI Yogya, kami segera masuk ke gedung teater karena kami telat 3 menit. Dan… tidak ada yang mengeluarkan suara karena The Avangers terlalu sayang bila tidak diperhatikan.

Selepas nonton, kami duduk-duduk untuk bercerita akan banyak hal. Saya yang cerewet, bercerita mengenai pengalaman saya di Pare. Sedangkan Kak Eja lebih suka bernostalgia dan bercerita tentang dunia kampus. Beberapa saran juga dia berikan kepada saya. Masih dengan bacotannya, dia sering bertanya mengenai nama-nama kakak kelas yang saya jawab dengan gelengan kepala. Padahal dulu saya sempat tenar di sekolah akibat fashion saya yang kelewat unik dan banyak kakak kelas yang mengenal saya, tetapi saya melupakan mereka dalam hitungan detik. Wusshhh… bukan sombong. Tapi saya benar-benar tidak ingat.

Ya. Tidak banyak sih. Kami lebih banyak bercerita, bahkan di jalan pun hanya diisi oleh cerita. Kami sempat singgah di warung Burjo lagi untuk makan malam. Topik obrolan kali ini pun mengenai sekolah kami yang saat ini sedang dilanda–ehm–kebobrokan, mengenai pengalaman saya di Pare, dan buku. Kak Eja tidak terlalu suka membaca, tetapi jenis buku yang disukainya adalah buku-buku bergenre imajinatif seperti The Golden Compass atau Percy Jackson. Buku yang juga saya favoritkan.

Lama kami mengobrol, meski piring kami sudah kosong. Ketika membayar, Mang Burjo mengeluarkan kalimat menggodanya lagi mengatakan bahwa Kak Eja adalah bendahara saya. Bukan bendahara mang, tapi ini rezeki anak kosan sahut saya di dalam hati. Dalam hati. Sedangkan Kak Eja tertawa, “kapan lagi?” Bisiknya kepada saya.

Saya sih suka ditraktir. Tapi kalau yang traktir anak kosan juga kan… kasihan. Sama-sama anak kosan kan jadi tahu apa alasannya hehehe.

Tapi ya sudahlah ya… kalau rezeki ditolak kan juga nggak baik. Alhamdulillah. Agenda hari kesembilan saya mendapat rezeki besar. Makan malam dibayarkan plus tontonan film yang mengasyikkan. Thank you brothaa!! ‘-‘9

Berbeda dari hari biasanya, malam ini hujan tidak menemani tidur saya. Tidak ada lullaby gertakan genteng yang terkena air hujan. Langit sedang memperlihatkan kecerahannya.

P.S
Saya selalu teringat kata-kata seseorang yang saya temui di Pare selama saya di Yogyakarta ini. Beliau berkata bahwa saya memiliki kemampuan yang sangat baik. Banyak potensi yang bisa digali dari dalam diri saya. Sayangnya, saya tidak menyadari hal itu sepenuhnya. Satu kalimat yang paling saya ingat sampai sekarang dari beliau adalah, “Saya akan sangat merasa bodoh bila menjadi kamu dan tidak mencari beasiswa untuk berkuliah.”

Saya… masih… bimbang dan belum mengerti.

Tetapi satu hal lainnya yang bisa saya perbuat adalah mengasah kemampuan yang ada. Seperti mengisi waktu dengan melakukan beberapa passion saya dan memperbanyak membaca buku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s