Koar-koar Agenda Ke-10

Memori saya ketika berjanji pada Tuhan belum sepenuhnya kembali, saya masih terombang-ambing dalam ketimpangan ilmu yang hanya secuil–atau bahkan tidak sampai secuil–yang saya pernah pelajari. Bagaimana mungkin, saya masih belum memutuskan dua pilihan sulit yang sedang hangat-hangatnya saling berorasi dalam benak saya; Kuliah atau Tidak Kuliah.

Saya ingat perbincangan saya dengan seorang Mahasiswa Pascasarjana ISI, teman kontrakan Bastian yang memberi saya pemahaman akan perbedaan mahasiswa dan bukan mahasiswa. Dia menyarankan saya untuk berkuliah karena mendengar passion saya dalam dunia tulis-menulis. Namun, pemahaman itu masih membuat saya bimbang akibat kebingungan. Saya merasa arah yang saya jalani saat ini salah. Alur saya harusnya bukan berada di sini, dan saya memaksa diri untuk mengikuti alur yang saya pikir salah. Iya, saya membohongi kata hati.

Dalam hal ini, mungkin ya, saya sebenarnya tidak ingin berkuliah. Saya hanya ingin memulai diri dengan menjadi penulis yang berpetualang ke seluruh dunia, menjadi fotografer yang mengabadikan setiap hal yang saya temui sembari mengurus perpustakaan yang ingin saya bangun di Makassar. Kemudian, membangun Hostel sebagai pencapaian tertinggi saya saat ini.

Sesungguhnya, tanpa berkuliah pun saya dapat mewujudkannya. Namun, saya teringat perjanjian saya kepada kedua orangtua dan tuntutan kewajiban sebagai pemuda/i Indonesia yang suksesnya diukur dari tempat dan jurusan universitas yang dimasuki. Di lain hal saya memikirkan kondisi ekonomi diri saya sendiri. Untuk berkeliling dunia saya butuh kocek yang dalam–tidak mungkin untuk meminta modal dari orangtua. Saya harus bekerja.

Lagi pula, kedua orangtua saya bisa murka kalau saya memutuskan untuk tidak berkuliah. Mereka memikirkan masa depan saya yang akan menjadi apa kelak–juga ilmu yang pasti akan berbeda yang dimiliki antara mahasiswa dan yang bukan mahasiswa. Walau, ya, bisa saja saya akan berbelok arah dari prodi jurusan saya kelak setelah wisuda. Padahal menurut saya, ilmu tidak sepenuhnya diukur dari jenjang pendidikan seseorang. Ilmu yang dimiliki setiap manusia berbeda, sesuai dengan apa saja yang pernah mereka jalani dan mereka pelajari.

Kebingungan saya yang lainnya adalah… mengapa harus ada tes masuk dalam universitas? Ya, pasti jawabannya untuk mengukur standar prodi dan kestabilan tampungan mahasiswa per jurusan. Namun, kasihan orang yang memiliki minat dalam satu prodi yang terpaksa mengubur impian mereka hanya karena gagal tes. Padahal bisa saja orang yang gagal ini, apa bila sudah masuk prodi yang dia inginkan, akan lebih sukses dari orang yang ketika tes memiliki skor yang lebih tinggi dari padanya. Oke. Mungkin usaha yang akan menjawab, bukan? Sedih saja melihat soal tes yang jauh berbeda dengan mata kuliah yang diajarkan T.T). Atau ya saya yang kurang tahu. Ilmu saya masih timpang, kan?

Selama beberapa hari saya memang tidak menulis lanjutan agenda, karena jadwal harian saya yang terlalu normal dan membosankan. Kerjaan saya hanya pergi bimbel di pagi hari selama satu setengah jam, kemudian singgah ke Indomareet untuk menyegarkan kepala (buah dan puding, red), membeli makan siang di Warung SS atau Burjo, menonton anime di kosan, makan siang, tidur, bangun, belajar, dan tidur lagi. Oke beberapa hari ini saya jarang makan malam yang kadang saya ganti dengan ngemil roti atau snack. Kadang pula saya memaksa diri untuk belajar, meski lebih banyak refreshing dengan mendengarkan musik atau menonton anime atau menggambar (yes! Skretch book sudah terisi dengan gambar yang lumayan).

Hari ini saya mencoba keabnormalan dengan makan soto ayam yang rasanya hampir sama dengan Soto Banjar, berkeliling kota dengan sahabat karib saya Dayat, yaitu mampir ke toko buku selama beberapa jam, minum cokelat panas di Djuloe Kaffe sembari menunggu hujan reda, singgah ke Warung SS untuk makan sore, dan ke atm pada tanggal tua. Saya tidak tahan dengan buku-buku original murah yang dijual di Togamas, meski akhirnya hanya membeli dua buku; Supernova; Partikel #4 dan The Geography of Bliss. Proses penghabisan uang yang semestinya bisa ditabung.
image
Saya terlalu stress untuk berdiam diri di kosan selama beberapa hari, sehingga membeli buku adalah alat pemecah stress yang sejujurnya belum sembuh maksimal.

Di lain hal, saya mencoba menabung buku demi kepentingan Perpustakaan masa depan saya kelak. Menabung Buku!

Oh ya, saya menulis ini di tengah-tengah pelajaran Geografi yang sejujurnya saya senangi. Tapi saya terlalu bingung untuk memulai dari mana bab Geografi, yang lumayan banyak, untuk dipelajari (padahal hanya akan ada 15 soal Geografi di SBMPTN).

Ya. Lagi-lagi penyakit pasrah saya timbul. Saya tidak berharap banyak pada SBMPTN yang Passing Grade setiap prodinya naik drastis. Bahkan saya sampai memiliki rencana C untuk mendaftar di Institut Kesenian Makassar. Sampai rencana itu berujung pada pengusiran barang-barang kakak saya di kamarnya yang mungkin saja akan berpindah kepemilikian. Khayalan saya pun menggambarkan kamar Kakak Sapi yang penuh dengan buku. Fyi, kakak saya akan tinggal di rumah calon mertuanya kelak. Waktu memang berjalan sangat cepat.

Tidak mengapa. Mau di mana atau apa yang akan kelak saya terima, saya tahu itulah yang terbaik. Yang jelas saya tetap bisa meraih impian-impian saya yang ya… modalnya besar. Bahkan, bukan hanya saya yang memimpikan diri saya menjadi seorang pengelana. Orang lain, yang mengenal saya pun memimpikan saya bak pengelana. Mereka berpikir bahwa saya bisa saja bekerja sebagai backpacker dari pada berhenti di suatu tempat untuk memaksa diri dengan belajar.

Mereka berkata, “…kalau saya jadi kamu, sih… saya pasti akan mengisi waktu dengan berkelana ketika stress. Kan kamu backpacker.”

Ya, kalau stressnya berkelanjutan? Mungkin saya hanya akan berjalan setiap waktu dan tidak belajar barang sedetik pun. Liar benar. Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Saya hanya perlu menyisikan waktu barang sehari dalam seminggu untuk berkelana sekeliling Yogyakarta. Seperti hari ini di Togamas bak surga buku.

Begitulah. Kisah lainnya yang saya dapatkan hari ini adalah ketika saya bercerita pada Dayat mengenai hidup saya yang sejak tahun lalu dipenuhi dengan perjalanan panjang. Dari Sulawesi ke ranah Jawa. Dari kegagalan hingga keberhasilan sementara menjadi sosok tak terduga di Pare. Keberhasilan itu sifatnya sementara kalau nggak dipertahankan, ya. Saya tidak pertahankan karena saya harus kembali ke titik nol, belajar ilmu sosial dari titik nol untuk mendapatkan kesempatan berkuliah di Universitas… impian?

Bila mengingat perjalanan ini, saya rasanya ingin merobek satu kertas setiap harinya untuk menulis apa saja yang terjadi di setiap kesempatan yang ada. Mungkin saya bisa membuat buku semacam The Geography of Bliss mengenai Kisah Seorang Penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan. Dalam hal ini saya tetap menjadi penggerutu yang mencoba berbagai cara di mana saja untuk meraih impian-impian saya. Ya. Saya memang seorang penggerutu yang hingga saat ini belum bisa memahami diri sepenuhnya.

Perjalanan saya belum ada seperempat jalan. Saya baru saja menyadari kebodohan saya yang masih melakukan kebiasaan sama berulang-ulang, padahal saya tidak suka kegiatan berulang-ulang. Saya suka hari yang dinamis, tapi belum mencoba untuk membuat setiap hari saya dinamis.

Lihat esok. Mungkin saya masih akan mengulang kebodohan yang sama.

Pikiran dan hati saya sih meminta saya untuk menulis setiap kenangan yang masih saya ingat sejak kegagalan saya tahun lalu. Membuatnya dalam bentuk fiction tanpa merubah nama tokoh utama, yang saya samarkan dengan membuat sudut pandang orang pertama. Dan kesuksesan di akhir kisah yang belum saya pikirkan akan dibawa ke mana. Namun, rencana ini masih timpang karena saya masih memberatkan diri untuk belajar. Tidak tahu. Saya masih belum memutuskan. Bimbang adalah keahlian saya yang lainnya.

Mari lihat akan berada di mana alur perjalanan saya kelak. Masih seperempat perjalanan yang melelahkan dan menguras apa saja. Saya belum tahu sedinamis dan semelelahkan apa perjalanan di depan sana. Fiuh~~~

2 thoughts on “Koar-koar Agenda Ke-10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s