Saya dan Buku?

image

Satu hal yang saya pahami dari diri saya adalah ketika saya benar-benar ingin menulis. Pada saat itu juga saya harus segera menulis. Entah lewat laptop atau tab saya yang langsung berhubungan dengan aplikasi blog. Pasalnya, apabila saya menahan diri untuk menulis dikarenakan agenda lain, hati saya menjadi panas dan segala agenda berantakan akibat pikiran yang tidak fokus. Yang saya ingin lakukan hanya menulis. Tidak lain.

Sesungguhnya malam ini saya tidak ingin mengacaukan agenda belajar dimana materi bimbel untuk esok hari adalah Bahasa Inggris. Tetapi, sekeras apa pun saya memaksa mata untuk menangkap jejeran penjelasan di dalam buku catatan saya di Pare, saya tetap tidak bisa menangkap satu pun pemahaman materi. Saya menyerah.

Saya pikir masalah saya dikarenakan rasa penasaran pada dua buku yang saya beli sore ini. Supernova #5 Gelombang dan Filosofi Kopi. Dua-duanya dikarang oleh seorang Dee Lestari, salah satu penulis favorit saya. Saya memang sudah terserang racun Dee. Karya-karyanya tidak pernah tidak membuat saya menganga. Keunikan gaya cerita dan kebebasannya dalam mencurahkan imaji membuat saya iri. “Kapan saya bisa benar-benar gamblang mencurahkan seluruh imaji di otak saya?” Pikir saya.

Sayangnya, buku yang saya ‘kejar-kejar’ tidak ada di rak buku toko yang saya datangi sore ini. Titik Nol. Seminggu lalu saya berjanji untuk kembali ke toko itu untuk membelinya. Tetapi semesta seakan enggan memilihkan buku tersebut pada jalinan garis tangan saya. Sekeras apa pun saya cari, buku itu tidak kunjung saya dapatkan. Saya menyerah. Berjanji untuk kembali beberapa hari ke depan.

Saya teringat akan kalimat yang diucapkan seseorang yang saya kagumi di Pare. Gadis bernama unik ini seumuran dengan kakak perempuan saya. Tetapi, ilmu yang dimilikinya seluas samudera. Dia berkata, “…tanganmu sendirilah yang memilih buku apa yang akan kamu baca. Tanganmu yang menemukan takdirnya sendiri.” Kurang lebih seperti itu.

Pada malam itu, kami bercerita banyak. Saya, Ainun, dan dirinya. Saya bertanya mengenai salah satu agama yang menarik saya karena ajaran mendalamnya mengenai kehidupan. Dirinya pun menjelaskan sejarah agama kepada saya, hingga akhirnya kami ke poin Islam. Satu hal yang saya tidak lupakan dari penjelasannya, bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk selalu Belajar. Untuk selalu mencari. Makanya, saya selalu ingin haus akan ilmu.

Dari kalimat-kalimatnya, saya berpikir bahwa tangan saya enggan memilih Titik Nol sebagai hal yang harus saya baca saat ini. Semesta enggan membawa saya pada buku tersebut. Karena, ya, sejujurnya ada jawaban yang saya ingin dapatkan dari buku itu. Sebuah jawaban dari pertanyaan yang selalu timbul di benak saya.

Mengapa saya selalu memilih untuk berjauhan dari keluarga saya?

Saya sempat membaca sinopsis Titik Nol yang memberikan pertanyaan kepada pembaca. Mengapa harus jauh? Dan saya pikir pertanyaan itu sinkron dengan apa yang saya tanyakan selama empat tahun ini.

Banyak jawaban dan alasan yang berkelibet. Tapi tidak satu pun memuaskan saya. Tidak satu pun alasan tersebut sesuai dengan pikiran dan hati saya. Ada hal lain. Tapi saya tidak tahu apa itu. Saya yakin, jawaban itu ada di buku Titik Nol. Tetapi saya tidak boleh mencontek jawaban itu, semesta seakan berkata seperti itu kepada saya.

Semesta seakan memberitahu saya untuk mencari jawaban itu sendiri. Dan jawaban itu ada di ujung jalan yang saya tidak tahu di mana itu. Intinya, saya harus menjalani hidup saya hingga waktu membawa saya pada jawaban itu. Jawaban yang saya pertanyakan. Sebuah jawaban dari pertanyaan sederhana yang membuat saya kebingungan.

Oh ya. Saya sudah menemukan jawaban atas dua pilihan sulit yang selama ini saya perdebatkan. Saya sadar apa yang sebenarnya hati saya inginkan. Kesadaran itu saya dapati sejak membaca Partikel. Mengenal sosok Zahra membawa saya pada pantulan hati saya. Dari Zahra saya sadar, hati saya hanya ingin melakukan hal-hal yang memang sudah saya perdalam sejak SMA. Tidak lain. Selain itu, saya juga iri dengan tokoh Zahra yang benar-benar berani melakukan apa pun yang hatinya inginkan. Dia secara gamblang mengikuti hatinya. Tidak seperti saya yang terlalu banyak pertimbangan (banyak orang yang salah memprediksi kehidupan saya).

Kemungkinan besar, setelah menyelami pemberhentian saya kali ini, saya akan belajar untuk melakukan segala hal sesuai dengan apa yang hati saya inginkan. Tidak harus ada pertimbangan karena yang saya butuhkan hanya kenekatan. Insanity.

Saya setuju-setuju saja dengan dunia kuliah. Tidak ada pilihan yang sulit lagi. Segala tempat dan jurusan yang berjodoh dengan saya akan saya terima. Terserah. Yang penting ada hal utama yang harus saya lakukan sepanjang hidup saya ini. Fokus saya ada di sana tapi tidak akan membuat dunia kuliah saya hancur.

Ya. In addition, saya pikir saya harus ke Pare lagi–entah kapan–karena saya mendapati diri saya yang masih belum paham materi Grammar yang pernah saya dapatkan. Memang masih setengah yang saya dapati. Lima bulan bukan waktu yang cukup untuk mempelajari semuanya. Itu berarti saya akan kembali ke sana lagi.

Cukup sudah yang ingin saya ceritakan hari ini. Kesimpulannya, saya tidak boleh jauh-jauh dari buku. Karena buku saya berpikir lebih banyak. Karena buku saya bisa berpikir lebih sehat. Karena buku saya juga mendapatkan banyak ilmu baru. Dan karena buku saya bisa mengatur emosi yang bergejolak ketika saya putus asa untuk mencari sebuah jawaban dari pertanyaan membingungkan.

P.s
Salah satu buku yang saya foto berjudul Aku & Buku adalah sebuah buku pinjaman dari saudara yang saya temui di Pare. Kak Bay. Buku tersebut dipinjamkannya sore ini setelah dia mengantar saya ke toko buku dan menemani kegilaan saya ketika mencari Titik Nol. Saya akan membacanya sampai tandas. Fyi, salah satu judul di dalam buku itu ditulis oleh salah seorang pendiri institusi bimbingan belajar Bahasa Asing di Pare. Seseorang yang sebenarnya saya kagumi, juga saya takuti. Hingga saat ini saya tidak pernah mengobrol atau bertemu beliau secara langsung. Saya masih mengumpulkan keberanian dan ketika hari itu datang… berarti saya telah kembali ke Pare.

2 thoughts on “Saya dan Buku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s