Hobi Membaca

image

Salah satu pencapaian luar biasa saya kala SMA

Sejak kecil saya tidak pernah berandai-andai untuk menjadi pembaca atau pun berandai untuk memiliki perpustakaan. Pikiran saya hanya ingin menjadi polwan, guru taman kanak-kanak, pelukis atau koki. Menjadi kolektor keju batang dan kolektor komik doraemon. Hingga akhirnya saya dipertemukan dengan majalah Bobo. Namun, saya lebih menaruh perhatian pada halaman puisi dan lukisan. Ketika saya tahu puisi saya tidak dihargai oleh siapa pun, saya pun urung membuat puisi dan lebih fokus pada lukisan dan cerpen super pendek karya anak-anak seumuran saya yang dimasukkan ke majalah.

Saya kecil tidak tahu menahu soal dunia buku. Yang saya pahami hanyalah buku adalah semacam buku cetak pelajaran yang malas saya buka ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Hanya dua tiga buku yang sering saya buka, buku PPKN, Agama Islam, dan Bahasa Indonesia. Ketiga buku itu menyajikan cerita-cerita pendek yang selalu saya baca di waktu luang. Buku PPKN saya dan kakak saya yang paling sering saya ‘kotori’ karena cerita yang ditawarkan beragam.

Pada dasarnya, yang mengenalkan saya pada dunia buku adalah kakak saya. Buku pertama yang saya baca adalah sebuah novel remaja yang isinya tidak sesuai dengan kategori umur saya. Jujur, tema yang saya baca mengenai percintaan dan berbagai hal intim. Saya pun membaca novel kakak saya diam-diam. Kemudian, pada ulang tahun saya yang ke-10 (atau sebelas… saya lupa), saya berkenalan dengan buku KKPK atau Kecil-kecil Punya Karya. Buku pertama saya.

Sebuah buku yang kini saya berikan kepada adik sepupu saya yang juga memiliki hobi yang sama dengan saya saat ini.

Kala itu saya hanya sebagai penikmat. Saya juga jarang membaca, kecuali membaca materi pelajaran bila keesokan hari ada ulangan.

Di Makassar, ketika saya duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, saya pun makin diperkenalkan oleh novel. Novel Film Horror,7 Banteng bla bla, Canting Cantiq, dan Pinky Vespa. Novel teenlit (untuk serial Canting Cantiq, hingga saat ini saya masih mengidam-idamkannya. Novel serial yang epik!). Hal ini dipengaruhi oleh kakak dan tante saya yang masih berumur remaja. Asupan saya hanya novel-novel roman, itu pun jarang saya baca karena saya lebih senang membaca komik. Ya, Doraemon, Detective Conan, dan Maia adalah favorit saya.

Karena hidup dalam keluarga nomaden, komik-komik saya banyak yang hilang diakibatkan proses pemindahan berulang kali. Banyak yang tercecer. Terakhir kali, saya melihat koleksi saya di rak buku adik sepupu saya. Saya bersyukur, dia menjaganya dengan baik. Bahkan hingga saat ini buku-buku saya yang pernah saya beli di Baubau tercecer di dalam sebuah dos yang sayangnya terkena banjir beberapa bulan lalu. Tamatlah sudah. Kehidupan nomaden saya pun masih berlanjut meski harusnya saya bisa memilih untuk stay di Makassar.

Orang-orang di sekitar saya tidak pernah memprediksi hobi saya dalam dunia membaca. Mereka pernah berasumsi bahwa saya bukanlah sosok yang suka membaca. Namun, dalam dunia tulis-menulis yang saya dalami, suka atau tidak suka, membaca adalah hal yang diwajibkan. Hingga saya mencemplungkan diri untuk lebih mencintai buku (padahal awalnya saya membeli dan membaca buku hanya sebagai sarana mempelajari tata bahasa, paragraf, kosakata yang ada dalam satu karya, kebanyakan novel remaja dibandingkan novel jenis lain).

Satu hal lagi yang baru saja saya sadari. Tingkat membaca saya masih kalah dengan tingkat membaca Bapak dan Kakak perempuan saya. Keduanya menguasai setengah lemari buku yang ada di rumah tinggal saya di Makassar, maka dari itu saya hanya kebagian rak kecil yang tidak bisa menampung semua buku saya. Keduanya memiliki relasi yang lebih kuat, meski banyak orang mengatakan saya lebih dekat dengan Bapak. Kakak dan Bapak saya memiliki banyak kesamaan, selain sama-sama berkecimpung dalam dunia hukum (yang mati-matian saya tidak senangi), keduanya pun sama-sama menyukai jenis bacaan yang sama. Jenis bacaan yang saya tidak bisa pahami.

Tersebar di setiap sudut lemari buku di rumah, bermacam-macam buku bersampul hijau yang berisi undang-undang dan tetek bengeknya. Buku-buku tebal yang membuat saya pusing ketika melihatnya. Buku-buku itu sudah sulit dicari kata kakak saya, bahkan ada dosen yang menawar salah satu buku bapak saya. Saya sadar, bapak saya seorang pembaca ulung kemudian diturunkan pada kakak saya.

Bila kakak saya sering disamakan dengan bapak saya, saya sering disamakan dengan mama saya. Kemudian, semua itu berubah sejak negara api menyerang hehehe. Saya mendapati diri saya tidak terlalu mirip dengan kedua sifat orangtua saya, saya semacam memiliki gen tersembunyi yang sepertinya diturunkan oleh nenek moyang saya. Tentu saja. (Sifat yang sebenarnya ada dalam kedua orangtua saya, tetapi sifat lain lebih dominan).

Kembali dalam dunia membaca. Hobi membaca saya kemudian diasah oleh teman-teman yang saya temui di Pare. Bertemu dengan orang-orang penggila buku, saya pun mencoba membaca bukan hanya sekedar ingin tahu tata bahasa, tapi juga makna dalam sebuah buku. Mereka membantu saya dalam memercayai sebuah sihir dalam buku. Buku sebagai sumber ilmu.

Sejak itulah saya pun sibuk dibuai untuk mencari makna sebuah buku. Semua buku yang bisa saya lahap, ya saya lahap. Bila tidak biasanya saya simpan dahulu, dan apabila saya siap, saya pun membacanya. Buku-buku yang masih saya simpan adalah semacam buku-buku karya Pram. Otak saya masih belum memahami seluruh makna yang terkandung di dalamnya. Mungkin kelak ketika mental saya siap.

Mengenai membaca, saya mendapatkan kutipan menarik dari salah satu kisah yang dimuat dalam buku Aku & Buku;

“Membaca buku adalah proses kreatif dan aktif, pembaca ditantang apa yang sebenarnya tak pernah selesai dalam buku kita yang dibaca. Bahkan ia diminta untuk mengarang, dan menciptakan kisahnya sendiri atas kisah yang dituturkan oleh buku kita yang dibaca.” –Sindhunata.

P.s
Aku & Buku membuka memori saya untuk bercerita awal mula saya dalam dunia membaca. Meski tidak semuanya yang ingin saya tulis tercurah dalam postingan ini. Kecerewetan saya dalam menulis juga kadang harus ditahan–walau sebenarnya saya tidak mau. Intinya, saya mengenal buku secara lebih dalam ketika saya memutuskan untuk berkecimpung dalam dunia menulis dan pengenalan saya makin dalam ketika merantau ke Pare selama lima bulan. Dulu, bahkan, saya sempat ragu untuk menyukai dunia membaca. Dan lama-kelamaan keraguan itu hilang. Saya senang membaca.

2 thoughts on “Hobi Membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s