Sebab Cokelat Karena Rokok

Malam itu aku berjalan dengan seorang pria yang sama sekali bukan tipeku. Rambutnya berantakan, tidak sampai sebahu. Pakaiannya kumal dengan celana jeans selutut yang tampaknya tidak pernah diganti. Dia tampak seperti gembel jalanan tanpa benda bernama kacamata yang bertengger di hidungnya. Hanya aset itulah yang membuatku tak ragu bahwa dia bukan gembel jalanan, melainkan sosok yang terpelajar. Pada jemari tangan kanannya, terjepit pula rokok kretek. Asapnya membaui tubuhku yang anti dengan rokok. Dia benar-benar gembel.

Satu tarikan napasnya membuat hidungku kembang kempis. Tidak tahan membaui mulutnya yang berbau masam. Ku dengar dirinya tertawa sembari mengembuskan asap mematikan itu.

“Saya tidak tahu kalau adiknya Sapri juga suka sama Band Folk yang sama sekali jarang dikenal sama orang yang tidak tahu apa itu seni.” Katanya membuatku geram setengah mati. Ah… kata-katanya memang selalu membuatku geram.

“Tidak juga. Biasa saja.” Kataku berkilah. Dia menjengkelkan sekali.

Dia tertawa lagi. Kali ini sampai tersedak. Ya Tuhan. Aku harap kekuatan yang membuatku bertahan berdiri bersisian dengannya dua jam lalu masih bertahan hingga kini. Tidak akan pula ku terima permintaan maaf Kak Sapri, kakak kandungku, yang seenak jidatnya membatalkan perjanjiannya untuk menemaniku nonton konser musik salah satu band folk ternama demi seorang gadis yang tidak ditahu asal-muasalnya dan menggantikannya dengan makhluh–entah–astral atau nyata di sampingku ini. Dasar pria. Mereka buta dan naif begitu melihat gadis yang menarik dalam cakupan mereka.

“Tidak juga? Tapi kamu juga ikut nyanyi, kan? Saya dengar hampir semua lagu yang dinyanyikan. Kamu tahu kalau suara kamu pas-pasan?”

“Tahu.” Jawabku singkat dan semoga setajam silet supaya dia bisa mengunci mulutnya.

Ya. Mulutnya terlalu bau dan cerewet. Pertanyaan yang retoris itu membuatku ingin menendangnya jauh-jauh dari penglihatanku. Aku tidak paham dengan selera Kak Sapri dalam mencari teman. Harusnya dia bisa mencari sosok teman yang lebih waras dibandingkan pria yang bersamaku kini. Bahkan kewarasannya tidak melebihi kewarasan pasien RSJ.

“Kamu lucu. Sudah tahu tapi tetap bernyanyi. Ndak tahu malu namanya.” Dia berkata, menyesap rokoknya penuh nikmat.

“Bodo amat.” Ku balas tidak mau tahu sembari mengipas asap rokok yang berterbangan ke arahku.

Dia mengembuskan napas berat melihatku bersikap seperti itu. Kemudian menyesap rokoknya lagi, kali ini embusan asapnya lebih banyak. Dia cekikikan melihatku yang makin gerah dengan asap yang ku dengar-dengar merupakan pembunuh para perokok pasif. Dasar. Kalau mau mati, mati saja sendiri. Aku tidak mau mati karena perokok tidak sopan sepertinya.

“Sapri juga merokok, kan? Jadi kamu selalu begitu di depannya?” Tanyanya tidak kunjung menghentikan kegiatan merokoknya.

“Tidak juga. Di rumah tidak diperbolehkan merokok jadi saya jarang liat dia merokok.”

Kepalanya teranggukkan. “Oh. Ini jadikan pengalaman saja. Supaya kalau ditanya sama temen ‘udah pernah hirup asap rokok?’ Kamu bisa jawab Ya dengan bangga.”

Gila, kan?

“Motornya diparkir di mana, sih? Kalau makin malam bahaya, Kota Yogya bukan pengecualian tempat para geng motor beraksi, kan.” Kataku mengalihkan topik. Lama-lama berbicara dengannya membuatku makin yakin bahwa teman Kak Sapri yang bertampang gembel ini memang pasien RSJ.

“Geng motornya ndak bakal berani lawan saya, dik. Aura saya mencekam bagi mereka. Percaya deh! Santai saja, udara malam dihirup sepuasnya, jangan dibiarin begitu aja.” Katanya ngelandur lagi. Bagaimana pula aku bisa menghirup udara malam dengan asap rokok di sekitarku? Yang ada kandungan racun dalam paru-paruku makin bertambah dan potensi untuk mati muda makin bertambah.

Aku menghela napas. “Oh. Nenek moyangnya para geng motor.”

“Ya kali. Eh, kamu tahu, ndak? Asap rokok itu salah satu struktur penunjang kehidupan. Sama kayak CO2. Coba kamu pikir, kalau tidak ada CO2 kamu bisa bernapas, nggak? Sedangkan CO2 menghasilkan Oksigen dari proses fotosintesis daun.”

Dahiku mengernyit. “Memangnya fotosintesis dilakukan malam hari? Yang ada respirasi kali. Pohon-pohon tidak bisa bernapas karena gas mematikan yang situ embuskan. Saya jadi sulit bernapas karena asap pahit yang situ tiup dari mulut. Yang ada namanya mengganggu, bukan menunjang kehidupan!”

Dia tertawa cekikikan. Rokoknya sudah habis sehingga dibuangnya puntung yang masih menyala itu di tanah dan diinjaknya sesuka hati. “Pintar sekali anak eksak satu ini. Sekali-sekali ajar saya tentang kehidupan di bumi, ya?”

“Jangan merokok lagi. Kamu mau mati muda? Kalau mati nanti Kak Sapri mewek seminggu, saya jadi repot.” Kataku ketika melihat tangannya mencari-cari rokok dalam kantong celana. Dia tertawa lagi, tidak mengindahkan kata-kataku.

“Kalau saya tidak merokok nanti saya tidak punya energi. Kamu mau bonceng saya? Oh dan terima kasih perhatiannya, dik. Saya tersanjung tahu kamu ndak mau saya mati muda.” Katanya tidak ku balas lagi. Aku tidak mau membuatnya makin senang dengan mengeluarkan kata-kata yang selalu ditangkisnya dengan mudah.

Begitu melihat motor vespa abu-abu yang terparkir di bawah sebuah pohon, langkah ku percepat dan dengan tergesa-gesa pria di sampingku mengikuti. Dia sudah menikmati rokok kesekiannya malam ini, mengembuskan asapnya secara maniak ke segala arah. Baru kali ini aku bertemu dengan manusia seaneh dirinya. Semua hal yang dikerjakannya jauh dari pemikiran waras manusia normal.

“Dik, kamu tahu tidak kalau rokok yang saya isap ini punya jasa besar bagi negara? Harusnya kamu bangga punya orang dekat yang merokok. Setidaknya kamu bisa hidup nyaman sampai sekarang.” Katanya sembari memakai helm.

Aku mengindahkannya. “Saya tahu. Dan seharusnya pemerintah bisa lebih inisiatif untuk mencari keuntungan. Bukan hanya bangga dengan mendapatkan pajak dari rokok yang bisa membunuh penduduknya lebih cepat.”

“Dan kamu musti tahu kalau perubahan signifikan di bumi ditandai dengan kepunahan besar-besaran makhluk hidup. Makin banyak masyarakat yang mati, makin mudah pula sebuah lingkungan diatur. Saya harusnya diberkati penghargaan bersama perokok lainnya, kan? Saya rela mati muda deh.”

Double gila. Aku tidak membalasnya dan segera duduk di jok belakang ketika bunyi khas vespa memecah keheningan malam. Di sepanjang jalan dia terus merokok, membutakan mataku oleh air mata ketika harus ditabrak oleh asap kurang ajar darinya. Ocehannya juga terus berlanjut. Aku tidak paham karena tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Begitu sampai di rumah, aku segera masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan terima kasih dengan singkat.Dia hanya mengangkat salah satu tangannya ke udara, rokok disematkannya pada bibir, dan matanya menatap Kak Sapri yang berbincang–mungkin bercerita mengenai gadis yang dikencaninya hari ini.

Ketika bunyi motor vespa menjauh dari rumah, Kak Sapri mengetok pintu kamarku. Dia tersenyum kecil padaku, yang ku balas dengan sengatan tajam kedua mataku yang sipit. Sebelum ku keluarkan unek-unek tentang temannya yang gila itu, dia menjulurkan sebuah cokelat mahal di depan mataku.

“Dia bilang, kalau asap rokok bisa membunuh salah satu nyawamu, maka sebatang cokelat bisa menumbuhkan nyawamu itu kembali. Catatan kaki: dia tidak akan membiarkanmu mati muda, tambahan nyawa bisa kamu terima setiap hari.”

Mataku membelalak dan Kak Saprti tertawa seperti orang kesetanan di depan pintu kamarku.

The End

P.s
Lama tidak bersua dengan cerpen dan romansa. Saya mendapatkan ilham setelah membaca salah satu status BBM teman yang mengingatkan saya dengan masa lalu saya di dunia fanfiction. Sebuah masa yang memperkenalkan saya dengan dunia tulis-menulis. Saya merindu dengan dunia kata dan khayalan pria idaman yang hanya jadi idaman saja.

2 thoughts on “Sebab Cokelat Karena Rokok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s