Apalah Apalah…

Semalam saya membuat puisi atau apalah itu dengan hati membara, sebab keseharian saya diusik oleh beberapa pria yang secara tidak langsung memperlihatkan sikap perhatian mereka kepada saya. Perhatian yang kadang berlebihan hingga saya berbisik pada hati, sungguh naifnya. Bukan berarti saya membenci hal itu, tetapi saat ini saya tidak memiliki waktu untuk membalas perhatian mereka. Dan saya bukan tipe orang yang to the point untuk berkata jujur dan kejam. Sehingga saya tidak sampai hati untuk menolak atau mencuekkan hal tersebut.

Kemarin saya benar-benar pusing kepayang. Teringat sebuah kata-kata kejam sahabat saya, “Kamu memang tipe cewek yang bikin cowok jones!” dan “Kamu terlalu baper! Jangan-jangan mereka cuma bosan kali!“. Dua kalimat itu saya dapatkan dari Bang Wan dan Mas Bowo. Sahabat saya, Wardiman bukan sahabat :p.

Tetapi setelah menjelaskan tata cara pemberian perhatian yang saya terima kepada sahabat melankoli saya, Bowo, dia pun paham bahwa perhatian itu bukan perhatian biasa. Saya tambah pusing. Berhari-hari saya mencoba tidak berpikir banyak mengenai hal itu sebab tujuan saya saat ini belum tercapai. Seorang teman pernah pula memasang display picture di BBM mengenai sikap wanita kepada pria. Bila tidak menginginkannya, lebih baik jangan memberinya harapan.

Jujur, saya tidak memberi mereka harapan. Saya hanya membalas sekenanya, yang saya pikir cukup dimengerti. Namun, Bowo mengatakan sebaliknya bahwa saya terlalu memberi harapan. Loh, saya makin tidak paham perbedaan memberi harapan dan biasa-biasa saja. Di sisi lain, saya tidak bisa berkata kejam atau menolak secara langsung. Saya berusaha menggunakan cara halus, membiarkan mereka hingga bosan sendiri. Tapi saya tidak tahu kapan mereka bosan.

Saya memiliki kenangan di masa lalu. Saya pernah menolak dua pria dengan kejam hingga membuat saya kepikiran hingga saat ini. Berpikir bahwa saya tidak sopan dan lain sebagainya. Saya tidak ingin berperingai seperti itu lagi.

Hidup saya jadi sama ributnya kayak di Pare kemarin. Padahal bila dipikir-pikir lagi… siapa sih yang mau sama cewek kayak saya? Ababil, weird yang punya khayalan tingkat tinggi nan liar.

Terakhir kali saya memiliki hubungan dengan pria adalah dua tahun yang lalu. Lewat dunia maya, tapi saya tidak bisa bilang pacaran karena hubungan tersebut tidak sehat. Yang benar-benar pacaran adalah tiga tahun yang lalu dengan seorang kakak kelas di sekolah. Itu pun hanya berlangsung selama hampir 4 bulan. Selepas putus, saya pun memutuskan untuk menyibukkan diri dengan impian. Saya sudah merasakan dunia pacaran yang nggak seenak orang pikir selama ini. Hanya jantung saja yang terus berdentam, tidak dengan hal lain.

Dalam berhubungan, ada tali yang tidak nampak, yang mengikat secara tidak nyata namun kehadirannya terasa. Saya tidak bebas bergerak. Batas-batasan pun timbul secara tidak nyata. Bahkan, ketika berpacaran saya sempat dingambekin karena ketahuan jalan dengan sahabat atau hanya karena sebuah foto bersama sahabat saya yang cowok. Oke, saya tahu itu cemburu tapi itu membuat saya merasa bahwa pacar saya tidak memercayai saya sepenuhnya. Seakan saya bisa pindah hati. Saya loyal kok orangnya, fyi.

Dan hubungan pun tidak berjalan mulus karena kita putus komunikasi, padahal satu sekolah. Saya paham, kala itu dia sudah bosan dengan saya yang kata orang cuek. Seorang mak comblang yang merangkap sebagai saudara di sekolah yang juga sahabat mantan saya pun sempat memarahi saya. Saya tentu tidak terima, meski di sisi lain saya paham kecuekan saya musti diporsir. Kami pun putus tujuh hari kemudian.

Saya mengambil kejadian tersebut sebagai pembelajaran. Saya tidak mau gegabah lagi, memutuskan berhubungan tanpa rasa yang benar-benar pasti. Ketidakyakinan saya pun juga mengambil andil penting. Saya masih labil, saya masih egois. Kehidupan saya dimiliki oleh rasa ambisius–yang saya porsir sedikit. Sebab saya tahu, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memulai sebuah hubungan. Saya masih seorang pengelana yang mencintai kebebasan. Hubungan, bagi saya, adalah tali pengikat yang membuat saya terpacung oleh ketidakpastian.

Soal hubungan di masa depan, bahkan, saya serahkan kepada orangtua saya karena saya tidak yakin akan berpacaran dalam kurun waktu yang lama. Terserah mereka ingin menjodohkan atau menunggu pertemuan saya dengan sahabat kecil saya, yang sudah dinobatkan akan berjodoh bila bertemu lagi. Pemikiran saya yang tidak sampai ke arah sana membuat saya pesimis untuk memulai sebuah hubungan. Percaya tidak percaya, saya tidak merasa nyaman dengan seorang pria yang saya anggap menaruh perhatian lebih kepada saya. Perlahan, saya akan menjauh dengan sendirinya. Saya terlalu takut untuk melukai hati orang lain. Maka, saya lebih memilih untuk menjauh.

Beginilah kisah percintaan saya yang dikungkung oleh impian. Namun, saya merasa lebih nyaman dengan kungkungan, untuk saat ini. Oh ya, saya teringat percakapan saya dengan Kak Uni, gadis seasrama di Pare yang saya kagumi, beliau berkata. “Jangan terlalu dipikirkan, dik. Pria itu gampang move on, kok. Tidak kayak perempuan. Mereka berpikir pakai logika, nda pakai perasaan seperti kita. Kalau pun kamu bersikap seadanya, bila dia lelah… ya dia bakal berhenti dan mencari yang lain. Santai saja.”

Oke. Saya santai saja *^* SBMPTN tahun ini harus saya taklukkan!

2 thoughts on “Apalah Apalah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s