Jenuh Lagi

Saya rindu menggenggam kamera sembari tersenyum kecil melihat orang-orang di sekitar saya menikmati hari mereka. Saya rindu tertawa melihat kenakalan dan kejailan teman saya di setiap kesempatan. Saya rindu langkah kecil kaki saya yang membawa diri ini ke segala tempat yang saya yakini mempunyai relasi kuat dengan takdir saya. Saya merindu, karena jenuh.

Mungkin inilah salah satu hal yang menyebalkan yang harus saya jalani dan membuat saya harus merelakan waktu-waktu mengasyikkan selama saya hidup. Saya belajar segala hal dari Nol, seperti kembali menjadi anak SMA yang kerjanya di kamar menatap buku dan memaksa otak memahami pelajaran yang membosankan untuk diketahui. Bukan berarti saya menyerah, saya hanya jenuh.

Selama dua minggu lebih, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar kosan. Kadang saya juga bercengkrama dengan teman satu kos dan bertahan meditasi tawa hingga larut malam. Namun, jujur, meditasi tawa itu tidak sepenuhnya membebaskan saya dalam belenggu sangkar kosan. Saya lebih senang ke luar sangkar, seperti burung yang terbang bebas di lapisan Troposfer. Maka, tidak jarang saya menghirup udara dengan penuh dan mencoba puas dalam setiap ‘pelarian’. Saya menikmati waktu di luar lebih dibandingkan waktu di dalam tembok beton yang membatasi pergerakan mata melihat hal-hal unik.

Saya juga jarang mengabari orang tentang kehidupan saya sejak keuangan saya kere. Namun, bukan soal uang. Hal ini lebih kepada pertahanan diri untuk tidak mengeluh, karena apabila menelpon dengan orang yang saya anggap sangat dekat, saya hanya akan mengeluarkan unek-unek dan harapan ingin cepat bebas dari sangkar. Dan kadang saya mendapati diri menjadi sosok super menyebalkan yang hobinya hanya mengeluh. Jadi saya coba bertahan untuk mengeluh di dalam hati yang sering berakhir dengan lelap ke bunga tidur.

Ah… saya ingin sekali beranjak ke antah berantah. Mengalungkan kamera, berjalan ke mana saja tanpa takut kesasar, menemui orang-orang hebat tak terduga lainnya. Semoga kejenuhan ini cepat berlalu.

9 thoughts on “Jenuh Lagi

  1. Pingback: Jenuh Lagi | firdaricha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s