Mari Kita Lihat!

Sesungguhnya ada banyak hal yang terjadi pada kehidupan saya setelah kejenuhan yang saya posting beberapa waktu lalu itu. Tuhan memiliki rencana sendiri kepada makhluknya, seperti saya yang kurang sabaran dan cepat merangut. Selepas kejenuhan itu, kehidupan saya berubah keesokan harinya. Ya, tepat keesokannya. Dan seterusnya.

Saya akhirnya menghabiskan banyak waktu untuk bercanda gurau dan berkumpul dengan teman-teman kelas bimbel–yang awalnya membuat saya minder karena faktor U dan teman kosan yang tidak pernah lelah berkumpul tiap malam di kamar saya. Proses sosialisasi yang kadang menyenangkan, juga menyebalkan ketika saya butuh waktu sendiri untuk belajar. Tapi itulah konsikuennya. Saya akhirnya butuh kesabaran ekstra untuk tidak bersikap kurang ajar dengan mengusir mereka dari kamar saya. Mengharuskan saya belajar intens di setiap waktu sempit yang ada–yang biasanya saya isi untuk beristirahat.

Dan terima kasih kepada teman kosan saya yang membuat saya terjaga hingga pukul 03.00 dini hari hanya untuk menemaninya belajar. Saya tidak pernah suka belajar hingga larut malam dan mengisi waktu belajar lebih pagi dari biasanya, tetapi karena faktor ‘tidak enak’ saya pun rela memutar ulang waktu belajar yang keefektifannya dipertanyakan. Saya tidak bisa deskripsikan rasa kesal juga senang yang saya dapati dari mereka. Yang berarti saya juga tidak bisa deskripsikan bagaimana hasil tes saya kemarin di Yogya.

Oh come on selepas tes saya hanya mengecek satu pertanyaan mudah yang saya pikir berulang kali di waktu pengerjaan soal. Dan syukurnya apa yang saya jawab benar. Opportunity cost saya sempurna hakhakhak. Ingatan saya juga cukup kuat. Yossssshaaa!

Setelah itu semuanya ditelan gempita kebebasan. Saya akhirnya bisa bernapas lega. Saya akhirnya bisa tidur dengan tenang tanpa ada kantung mata. Dan semuanya hanya mimpi. Hanya mimpi. Teror sosialiasasi masih berlangsung, malah lebih gila dari sebelumnya. Saya hanya berusaha menikmati dan bernyanyi dalam hati, “Kapan-kapan…. kita berjumpa lagi~~~ kapan-kapan kita bersama lagi.” Toh tiket menuju Makassar sudah di tangan, which means saya bisa bebas dari sikap otoriter mereka kepada saya. Walau pada akhirnya saya tetap mendapatkan dampak sensitif yang sering dilanda anak kosan. KanKer a.ka Kantong Kering.

Sudahlah ya… semuanya biarlah berlalu. Toh akhirnya saya dapat kenangan dalam bentuk koin lima ratus rupiah yang saling bertebalikan. Setiap sisinya berbeda penafsirannya. There is the good and the bad effect of penny. Sisi baiknya saya punya beberapa pengalaman yang bisa memperbaiki cara saya bersikap kelak, juga euforia bebas yang sempat saya rasa walau hanya sekejap. Biarlah~

Namun, bukan itu masalah utamanya. Saya memiliki hal baru lainnya yang harus diurus. Pengumuman SBMPTN akan diumumkan kurang dari sebulan lagi dan saya belum mendaftar di kampus cadangan (apabila saya gagal lagi tahun ini). Rencananya, saya akan mengirim berkas dari Makassar menuju Bantul. Sebuah tes Gelombang kedua yang penuh hal-hal imajinatif mungkin sedang menunggu saya di sana. Kampus yang saya masukkan dalam list cadangan–yang hanya ada satu pilihan. ISI.

Mari lihat kelak, apa saya benar-benar nekat mendaftar di sana?

2 thoughts on “Mari Kita Lihat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s