image

I’ve been spending my time to do nothing lately dan imaji saya benar-benar buntu. Menghilangkan mood untuk menulis. Saya pun lebih banyak mencurahkan waktu untuk bermain game, membaca buku sedikit-sedikit, dan membantu kakak mempersiapkan pernikahannya–seperti membungkus souvenir pernikahan atau menempel tag nama di undangan. Oh ya, 3 hari setelah SBMPTN saya segera berangkat ke Makassar demi acara Meppetuada atau mengantar uang naik kakak. Sayang demi sayang, saya tidak bisa mengikuti UTUL atau UM UGM.

Ya sudahlah ya. Saya sempat galau, sih. Namun, saya ingatkan kembali diri saya bahwa masih ada banyak tempat yang mau menampung saya kelak. Rencananya saya juga ingin mempersiapkan beberapa berkas di Makassar untuk mendaftar di ISI. Don’t judge the place. Saya pun belum tahu, akankah rencana itu terealisasi atau tidak. Melihat kesibukan di rumah, saya menahan diri hingga keadaan sedikit tenang.

Tahun ini penuh kejutan untuk keluarga dan diri saya sendiri. Selain keputusan mengejutkan kakak saya yang ingin menikah dalam usia muda, bapak saya pun dipindahtugaskan ke sebuah provinsi Timur Indonesia. Ambon. Ya, semakin ke Timur. Mendekati Ternate dengan pesona pantai yang tak kalah indahnya. Mungkin akan ada tambahan kejutan pula dari saya–belum ada bayangan apa hasil pengumuman SBMPTN kelak. Eh… saya selalu mengejutkan keluarga sih sebenarnya. Sejak tahun lalu, saya selalu menjadi biang masalah hehehe.

Betewe, saya baru saja membeli 2 buku. Salah satunya adalah Titik Nol, yang akhirnya berjodoh dengan jemari saya dalam rak-rak toko buku. Satunya lagi berjudul This is not a book karya Keri Smith.

image

image

Kejutan membuat saya terbungkam begitu membaca bab pertama Titik Nol. Tibet! Tibet! Shangri-La! Tibet! Lama! Buddha!

Oke. Seharusnya saya tidak seterkejut ini, tetapi banyak buku yang berjodoh dengan saya yang berisi ajaran Buddha. Bukan bermaksud berpikir aneh-aneh, toh ajaran Buddha juga baik.

Nah, dalam bab pertama mengisahkan si Agustinus yang pergi ke Tibet. Hal ini mengingatkan saya akan buku The Geography of Bliss yang dalam salah satu bab-nya juga berpergian ke Tibet demi mencari jawaban akan sebuah kebahagiaan. Dalam salah satu seri Supernova, yaitu Gelombang, si Alfa juga berpergian ke Tibet di mana akhirnya dirinya mengingat tugas yang diembannya sebagai Peretas. Ilmu akan Tibet saya makan dengan perlahan. Tempat itu membuat saya penasaran. Saya mungkin akan ke sana beberapa tahun ke depan.

Kemudian, untuk buku Keri Smith eh maksud saya This is Not a Book-nya Keri Smith, acungan jempol saya berikan. Buku yang terletak di deretan Chicken Soup ini memang terlampaui gila. Saya sampai berpikir dua kali untuk mengikuti intruksinya dalam melaksanakan game yang diberikan olehnya. Game pengembang kreatifitas. Ya, saya sengaja membelinya untuk memuculkan kembali dunia imaji saya yang mandek. Sayang, game-nya terlalu mengerikan seperti merobek salah satu halaman buku atau menempelinya dengan hal-hal jorok.

Rencananya saya akan melakukan game-gamenya dalam buku diary saya yang kosong. Saya akan ‘memperindah’-nya kelak dengan arahan Keri Smith hehehe.

Rencana. Hahahahha. Saya tidak bisa memercayai kata itu sepenuhnya. Seperti postingan ini yang awalnya saya inginkan untuk mengisahkan perjalanan saya di Solo beberapa waktu lalu. Well, mungkin perjalanan ke Solo akan saya posting kapan-kapan.

Kapan-kapan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s