Sekilas Kota Solo

image

Tepat tanggal 10 Juni kemarin, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kota Solo ditengah perbincangan mengenai pernikahan anak Presiden RI yang berlangsung di kota tersebut. Saya dan teman kos saya, Teteh Pipit, Mba Anggun, dan Retno bergegas ke Stasiun Tugu Yogyakarta pada pukul 10.30 untuk membeli tiket. Jarak Kota Solo dan Yogyakarta hanya mencakup waktu satu jam lebih tiga puluh detik menggunakan kereta.
image

Dengan hanya mengeluarkan kocek Rp 8000,00 kami sudah bisa duduk nyaman di atas kereta menuju Stasiun Balapan.

Kereta tiba pukul 11.00 dan kami segera mencari tempat duduk di gerbong pertama. Maklum, bagi penumpang perjalanan dari Yogya ke Solo sebenarnya tidak bertempat duduk alias berdiri. Namun jangan khawatir, kereta sangat lenggang dan kursi kosong tersebar di mana-mana.

image

Retno dan Saya

image

Mba Anggun dan Teteh.

Ya, selama perjalanan kami bersendau gurau, makan cemilan lidi-lidi pedas, dan menikmati pemandangan di balik jendela kereta. Saya sendiri menikmati bunyi roda kereta yang bergesekan dengan rel besi. Orang-orang di sekitar kami tampak lelap, menikmati satu setengah jam dengan berpetualang di negeri mimpi. Dan begitu pun yang dilakukan Teh Pipit, Mba Anggun, dan Retno ketika waktu memberikan kami keheningan yang lama. Saya sendiri tidak tertidur. Kehidupan dalam kereta selalu saya rindukan. Gesekan roda dan rel mengingatkan saya pada proses sebuah perjalanan, proses yang selalu mendebarkan jantung saya.

Tidak lama kereta pun terhenti, kami sudah sampai di Solo tepatnya di Stasiun Purwosari. Saat itu kami berencana untuk makan siang di salah satu warung Rawon yang terkenal di Solo, yakni Warung Rawon Bu Har yang letaknya lebih dekat ditempuh menggunakan trans-solo dari Stasiun Purwosari sehingga kami pun turun dari kereta menuju halte bus terdekat. Kota Solo ternyata tidak jauh berbeda dengan Kota Kediri. Ruas jalan luas dan lenggang. Pohon-pohon berderet di sepanjang jalan hingga terasa sejuk meski di siang bolong.

Begitu trans-solo tiba, kami segera masuk berebutan kursi. Sayangnya keadaan sedang ramai sehingga saya tidak mendapatkan kursi dan terpaksa berdiri berdesakan dengan orang-orang. Saya hanya perlu membayar Rp 4.500,00 menggunakan trans-solo menuju kawasan LP di mana warung Rawon tersebut bersebelahan dengan LP Timur Solo di jalan Slamet Riyadi.

image

image

Monumen Slamet Riyadi

Dari halte LP, kami berjalan sedikit dan berbelok ke sebuah jalan tepat di samping LP. Di sana ada sebuah warung bertuliskan Rawon sebagai menu utamanya. Harga seporsi Rawon hanya sekitar Rp 15.000,00. Rasanya lumayan, hanya kaluanya saja yang terlalu kebanyakan hingga Rawon terasa terlalu pekat. Saya sih menyantapnya dengan khidmat, tidak dengan ketiga teman saya yang merasa kurang pas dengan cita rasa Rawon tersebut. Di kala seperti itu, yang saya ingat hanya Rawon buatan mama yang enaknya tiada tara hehehe.

Setelah mengisi perut, kami berjalan lagi menuju Alun-alun Kota Solo yang tidak terlalu jauh dari lokasi warung makan Bu Har. Perjalanan sehari ini memang hanya bertujuan untuk melihat Kota Solo sekilas dengan berkunjung ke Keraton Solo. Yang mana Mba Anggun yang ditunjuk sebagai guide sebab dirinya pernah berkuliah selama tiga atau empat tahun di Solo.

Sesampainya di Keraton, kami harus membayar sebesar Rp 10.000,00 per orang untuk menikmati suguhan Museum Karaton Surakarta. Isi museum tidak jauh berbeda seperti museum kebanyakan. Mengingatkan saya akan Museum Keraton Yogya dan Museum La Galigo di Makassar. Setelah itu kami pun berkunjung ke lokasi utama Keraton, sebuah kawasan luas yang memiliki beberapa pendopo dan satu bangunan tinggi yang katanya angker. Bangunan tinggi itu semacam mercusuar tanpa lampu penerang. Saya pikir bangunan itu semacam tenpat pengamatan pada zamannya.

image

image

image

image

image

Arca Ganesha

image

image

Tidak semua kawasan Keraton bisa kami masuki. Contohnya pendopo-pendopo berpatung Dewa-Dewi Yunani Kuno yang dikelilingi kain kuning yang tidak memperbolehkan turis untuk menginjakkan kaki di sana. Tetapi bukan itu yang menjadi perhatian saya. Perhatian saya lebih kepada patung Dewa-Dewi Yunani Kuno, seperti Athena dan kawan-kawan yang menghiasi pendopo. Apa hubungannya, ya?

Ya, saya memang belum mencari tahu perihal itu hehe.

Setelah menikmati kawasan Keraton, kami pun bergegas mengademkan diri ke sebuah Mall yang ada di Solo. Kami berencana untuk menonton film, tetapi urung karena deretan film yang tidak menarik juga waktu yang tidak memungkinkan kami untuk menghabiskannya di ruang teater. Akhirnya, karena perut yang masih keroncongan akibat salah memilih rekomendasi internet (Rawon adalah rekomendasi dari Internet), kami pun menikmati makan sore di dalam kawasan mall. Sembari bersendau gurau kembali, kami menunggu waktu yang pas untuk beranjak ke stasiun dan menyudahi pelesiran hari itu.
image

image

Di Stasiun Balapan

Sekembalinya ke Yogyakarta kami menaiki kereta lewat Stasiun Balapan. Harga tiket kereta sebesar Rp 17.000,00 tidak sama dengan yang tertera di tiketnya yaitu delapan ribu rupiah. Maklum, harga tiket menuju Stasiun Tugu Yogyakarta memang selalu lebih mahal. Sembari menunggu kereta berangkat, saya asyik berdendang lagu Didi Kempot berjudul Stasiun Balapan yang sering saya dengar waktu kecil–yang ditertawai oleh teman-teman saya. Kemudian kami bersendau gurau hingga peluit berbunyi tanda kereta akan berangkat. Selama perjalanan pulang kami terlelap, saya ikut terlelap pada beberapa menit terakhir sebelum kereta sampai.

Perjalanan yang sangat singkat sebenarnya. Karena kurang informasi, kami tidak banyak berkunjung ke tempat-tempat wisata lainnya di Solo. Tetapi, bagaimana pun perjalanannya, saya tetap berbahagia sebab saya sudah tahu bagaimana rupa Kota Solo di balik Stasiun Balapan yang selalu saya pertanyakan ketika menaiki kereta yang mampir sementara di stasiun itu. Lain kali saya akan ke Solo lagi, dengan perjalanan dan cerita yang lebih seru lagi tentunya.

image

Sebelum balik ke kosan, foto dulu di Malioboroo

(Ada beberapa foto lagi yang ingin saya upload, tetapi aplikasi wordpress saya sedang bermasalah, mencoba merubuhkan kesabaran saya -_-)

2 thoughts on “Sekilas Kota Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s