Tentang Athirah

image

Pemberian Kak Bay

Athirah.

Ya, Athirah. Judul sebuah buku yang berasal dari nama seorang wanita Bone yang telah melahirkan seorang anak yang kini menjadi Wakil Presiden RI kita. Pak Jusuf Kalla atau biasa lebih dikenal sebagai JK. Hiruk-pikuk namanya makin terdengar begitu Riri Riza dan Mira Lesmana bekerja sama, kembali, membuat film yang terinspirasi dari novel buatan Alberthiene Endah tersebut. Apalagi yang paling ribut adalah orang Sengkang dimana beberapa latar filmnya diambil di sana.

Saya, yang memiliki relasi dekat dengan orang-orang Sengkang, juga terkena dampaknya. Dengan iri saya menatap foto-foto teman saya yang ikut menonton proses pembuatan film yang diambil di salah satu jalan utama di kota kecil itu. Selain itu, Riri Riza adalah sutradara favorit saya. Dia yang membuat saya makin menggebu untuk mempelajari dunia film. Ya, saya tahu, mungkin karena Riri Riza orang Makassar dan saya lahir di Makassar.

Mungkin saya bermimpi terlalu tinggi. Mungkin saya masih belum yakin betul dengan impian yang terlalu menggebu ini. Namun, yang pasti saya ingin belajar.

Selain karena filmnya mengambil latar di Kota Sengkang, Athirah cukup istimewa sebab novel yang kini saya miliki itu merupakan hadiah dari salah seorang saudara saya yang saya temui di Pare. Dia seumur dengan kakak saya, dan saya memanggilnya Kak Bay. Sudah lebih sebulan saya tidak menghubungi beliau. (Inshaa Allah akan saya hubungi selepas melihat pengumuman SBMPTN). Saya mengenal Athirah lewat pemberiannya dan juga ceritanya bersama Bastian–yang begitu bersemangat menceritakan kampung mereka, Bone.

Athirah, bagi Kak Bay dan Bastian adalah media untuk memperkenalkan kampung halaman mereka. Media untuk membanggakan betapa hebatnya orang-orang Bugis. Saya sering tertawa mendengar cerita mereka, melihat betapa mereka mencintai kota mereka. Sedangkan saya yang selalu merasa bingung ingin membanggakan kampung halaman, yang mana(?), hanya bisa mengunci mulut. Ada kalanya memiliki satu kampung halaman adalah hal yang mengasyikkan. Kamu tahu benar kampungmu dan pernah tinggal lama di sana.

Saya selalu ingin mengatakan Kota Makassar adalah kampung halaman saya, tetapi saya tidak pernah tinggal lebih dari enam bulan di Makassar dan saya pun tidak tahu apa-apa tentang Kota Makassar. Kecuali mengenai Kerajaan Gowa-Tallo dan asal mula Perjanjian Bongaya dengan VOC hehehe. Kadang saya juga ingin mengatakan bahwa Banjarmasin adalah kampung saya, tetapi apa daya… saya tidak pernah pulang selama Hari Raya Ied di sana.

Dalam gurauan keluarga saya, Bapak pernah menyebutkan bahwa Sengkang mungkin saja adalah kampung kami dengan segala keramahan yang diberikan koleganya di sana. Apalagi kini calon mantunya adalah orang asli Sengkang. Lucunya hidup keluarga saya. Bah bah bah…

Oke, kembali ke Athirah. Mungkin pernah saya ceritakan di sini, saya memang senang dengan novel itu tetapi tidak secara keseluruhan akibat plot yang seperti ditahan-tahan. Seperti ada cerita yang di-skip, di-edit untuk keperluan tertentu. Entahlah yaa… sehingga ceritanya agak datar. Judulnya pun tidak sesuai dengan isi yang tidak menceritakan kisah Athirah secara keseluruhan (tetapi setidaknya lebih baik dari saya yang selaku stuck menentukan judul). Kebanyakan hanya kisah pemikiran Pak JK tentang Ayahandanya, Ibunya, kehidupan berniaganya, dan Ida–sosok cantik yang mengisi hatinya sejak SMA. Tidak benar-benar bercerita mengenai Athirah–secara keseluruhan.

Di balik itu, amanat yang terkandung dalam novel tersebut cukup baik untuk kalangan wanita yang ingin dihormati oleh para pria. Kak Bay sama Bastian sering menyindir saya dalam hal ini. Sifat Athirah dan Ida memang patut diacungi jempol, sih. Kesabaran Athirah yang dipoligami oleh suaminya, ketabahannya dalam menjalani hidup bersama anak-anaknya, dan kecerdasannya dalam berdagang. Kalau Ida untuk kecerdasan dan sikapnya yang cuek terhadap pria. Ohooo…

Yang belum pernah baca Athirah, saya rekomendasikan deh. Pokoknya wajah Makassar dalam gambaran tahun-tahun 70-an memang menarik. Kehidupan warga Bugis juga mungkin bisa menambah pengetahuan. Jangan lupa pula untuk menonton filmnya. Saya yakin, Riri Riza dan Mira Lesmana bisa membuat filmnya semenarik dan sebaik mungkin, meski–mungkin–agak berbeda dengan isi bukunya. Pokoknya mustread dan mustwatch deh!

image

Favorit saya nih hehehe (cr: Instagram)

image

JK Masa kecil (cr: instagram)

2 thoughts on “Tentang Athirah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s