Rosemary

Tema: Charmspeak
(Charmspeak adalah kekuatan yang dimiliki anak Dewi Aphrodite, Piper, yang disebutkan dalam Seri Percy Jackson)

Rosemary. Namanya cukup singkat. Ayahnya memberinya nama indah itu sebab Ibunya tergila-gila dengan film barat ketika dirinya masih di dalam kandungan. Dan hanya nama itu yang ada dipikiran mereka. Rosemary. Seperti nama bahan makanan–dan memang. Ros, kami memanggilnya seperti itu, kadang jengah ketika guru-guru mengabsen nama kami karena ketika namanya dipanggil, pronounce namanya menjadi sangat aneh.

Rosemari. Dengan bunyi huruf E dan I yang sangat jelas. Oh sungguh, jangan salahkan nenek moyang orang Timur Indonesia yang sulit membedakan dua jenis bunyi huruf E. Bunyi E versi lembut dan E versi jelas tidak ada dalam kamus pronounce kami. Hanya E biasa dengan bunyi yang jelas dan tegas seperti menyebut kata ‘Ember’.

Aku? Oh, Ros sering mengajarku menyebutkan namanya–tidak, maksudku mengajari aku dan teman-temanku yang tidak pernah tahu film barat dan perbedaan dua jenis bunyi huruf E. Kami tidak pernah mengelak ketika dia mulai menggerakkan mulutnya untuk membaca Rosemary, dan aku pikir itulah kekuatan yang dimiliki Ros sebagai manusia zaman mutakhir. Perkataannya adalah Iya dan tidak pernah tidak. Seperti ada sihir yang mengunciku dan teman-temanku untuk mematuhi apa yang dia katakan. Sihir yang disebut Charmspeak.

Aku tidak tahu asal mulanya, tetapi sejak kami dipertemukan satu kelas Ros memang memiliki pesona sendiri dibandingkan anak lain. Dirinya bak ratu dengan rambut ikal panjang menjuntai hingga punggung. Wajahnya oval, kedua bibirnya tipis dan berwarna merah muda segar yang ketika tersenyum mampu membuatmu ikut tersenyum. Dia ratu di kelas kami dan tidak ada yang mampu mengelak fakta itu.

Ros, meski selalu mengajari kami Bahasa Inggris, sesungguhnya tidak begitu pintar di kelas. Dia akan menundukkan wajah terus menerus selama pelajaran Matematika, Kimia, dan Fisika berlangsung. Dia tidak pernah menonjolkan diri seperti ketika pelajaran Bahasa Asing berlangsung. Sihir yang disebabkan ngidam ibunya ketika mengandungnya sangat bekerja, membuat anaknya lebih senang dengan pelajaran bernuansa kebaratan. Bila saja ibuku juga mengidamkan hal yang sama ketika beliau mengandungku mungkin aku dan Ros menjadi pasangan terklop di kelas.

Ah… lupakan. Aku hanya bercanda.

“Baso, bisa ka duduk di dekatmu? Mau ka tidur nanti kalau datang mi Pak Herman. Tidak bisa ka paham pelajarannya jadi lebih baik tidur ma saja. Tidak apa-apa ji toh?”

Satu keberuntunganku sebagai anak yang duduk di deretan paling belakang kelas. Ros senantiasa duduk di sampingku begitu pelajaran Pak Herman dimulai. Pak Herman, guru yang memiliki suara terenyuh dan termerdu di sekolahku itu adalah guru Fisika. Pelajaran yang dibawakannya selalu membuat Ros menekuk wajahnya sehingga sering membuatnya tertidur dan memaksanya untuk duduk di sampingku hingga tertidur pulas sampai pelajaran selesai.

Aku tidak pernah mengelak permintaannya. Seperti hari ini.

“Oh. Iya, silahkan.”

“Makasih nah Baso! Kapan-kapan saya traktir ko makan Bakso di kantin.” Katanya sembari duduk di sampingku. Dia membawa beberapa buku Fisika dan menaruhnya di atas meja sebagai bantal.

“Asal bukan ji janji manis, Ros.” Kataku membuatnya berbalik menatapku.

Satu rahasia tentang Ros. Selain ucapannya yang tidak bisa dibantah, matanya juga memiliki sihir aneh yang kadang membuatku enggan menoleh ke arah lain selain matanya. Binar yang terdapat di sana berbeda dengan binar yang dimiliki mata-mata temanku. Tidak pelak memang, Ros adalah ratu kelas kami.

“Sebentar pale makan ki sama-sama di kantin nah.”

Aku menatapnya tak yakin. Tapi aku juga tidak bisa tidak percaya dengan ucapannya. Dia mengajakku makan Bakso di kantin istirahat nanti, apakah aku tidak salah dengar?

Oke. Asal tahu saja, Ros sedikit protektif untuk berhubungan dengan pria, dia tidak pernah ingin pergi berdua dengan pria atau makan di kantin bersama dengan pria. Dan diriku? Seorang Baso Arman? Aku pria!

“O… oke.”

Dan itulah yang terjadi siang ini di kantin. Aku dan Ros makan Bakso berdua, saling berhadapan. Hanya berdua. Seperti halnya seorang ratu, Ros diperhatikan banyak orang dan membuatku juga ikut diperhatikan. Perhatian ini menyulitkanku meneguk bakso yang telah dicacah gigi gerahamku. Kenikmatan yang ku damba selama beberapa jam sebelum istirahat terganjal oleh kenyataan yang tidak begitu menyenangkan. Aku jadi rindu makan bersama teman-temanku di sisi kantin yang lebih sepi.

“Ros,” aku memanggilnya, tenggorokanku tiba-tiba tercekat begitu sadar dengan apa yang ku lakukan.

“Apa?”

“Ng… tidak ji. Mau ka ji tanya, di mana temanmu yang lain?”

“Mereka tidak mau makan bakso, jadi na tinggalkan ka sendiri di sini. Eh, maksudku sama kamu.”

Aku mengangguk sok paham. Tapi benar aku paham. Hanya saja basa-basi ini tidak menyenangkan. Aku tidak pernah bermaksud membuatnya mentraktirku, tapi rezeki di siang hari juga tidak bisa ku tolak.

“Tidak ko suka makan sama saya kah?” Tanyanya seakan menuntut.

“Tidak tidak! Saya tidak bermaksud, Ros. Maksudku,”

“Iya, saya paham ji. Santai mi ko saja.” Katanya membuatku segera bungkam. Aku pikir charmspeak Ros tidak berjalan lancar karena kata santai yang dikeluarkannya tidak membuatku santai sama sekali.

“Baso.” Panggil Ros setelah jeda panjang yang kami timbulkan. Di mangkukku telah tersisa satu bola daging cincang. Setelah dia berkata aku segera menancap kecepatan makanku. Ternyata berduaan dengan seorang ratu tidak senikmat imaji yang diciptakan otakku selama ini.

“Eh… menurutmu, baik je ka, iya?”

Aku termanggu. Menatapnya tidak paham. “Maksudmu, Ros?”

“Iya, maksudku, selama ini saya tidak menjengkelkan, kan? Saya tidak buat orang lain susah, kan?” Tanyanya setengah berbisik.

Terpaksa aku mengurungkan niatku untuk menghabiskan bakso yang berada di dalam mangkuk. Pertanyaan Ros membuatku penasaran akan pemikirannya yang selama ini terlihat sebagai pemimpin yang kata-katanya bisa dipercayai dan dipertanggungjawabkannya. Tidak pernah sedikit pun Ros berkata mau pun bertanya tentang kebimbangannya akan sesuatu. Dan kini Ros sendiri bertanya padaku, tentang dirinya.

“Siapa yang bilang kamu menjengkelkan?” Aku bertanya skeptis.

“Tidak ada, tapi… lihat Baso! Kenapa orang-orang seakan begitu segan sama saya padahal saya tidak buat apa-apa yang patut disegani.”

Aku tertawa kecil. “Bukannya kamu harus bersyukur, Ros? Setidaknya mereka tidak melihatmu dengan sebelah mata. Segan itu juga bukan berarti sebuah anggapan bahwa dirimu menjengkelkan atau menakutkan. Kamu baik-baik saja dengan anggapan itu. Sebaliknya, mereka segan karena kamu memiliki apa yang tidak mereka miliki.”

“Tapi, Baso…”

“Ros, kalau saya jadi kamu. Saya akan bangga setengah mati dengan apa yang saya miliki. Keraguanmu itu bikin kamu down. Kamu mau mereka jadi semena-mena denganmu? Alias memandang remeh dirimu?” Aneh. Aku ternyata bisa sebijaksana ini. Sihir Ros mungkin merasuki keadaan mentalku.

“Tidak. Saya tidak mau Baso.” Ros menjawab. Dia begitu serius mendengarkanku.

“Nah, kalau begitu jangan kamu tanyakan lagi hal itu pada saya.”

“Tidak janji, Baso.” Ros menghela napas. Aku memandangnya mencari letak kebohongan yang dikatakannya, tetapi kebohongan itu nihil. Raut Ros masih belum berubah. Ada jejak keraguan yang terbias di sana.

“Apa yang mengganggumu, Ros? Hari ini kamu beda sekali dari biasanya.”

Ros menekuk wajahnya. “Kadang, menjadi orang disegani itu tidak cukup menenangkan hati. Saya merasa tertekan dengan keseganan yang diperlihatkan orang. Raut tidak nyaman dari orang lain membuat diri ini tidak nyaman dengan diri sendiri.”

Aku sebenarnya tidak bisa berkata banyak lagi. Pengalaman Ros berbeda dengan apa yang ku pikirkan selama ini. Aku tahu, aku memang buka motivator yang mampu mengeluarkan kata bijak. Bukan pula pendengar yang baik. Aku hanya seorang Baso Arman si manusia biasa.

“Maka buatlah dirimu senyaman mungkin.” Kataku pada akhirnya yang tidak bijak sama sekali.

Wajah Ros masih tertekuk. Dia mengangguk kecil dan menyantap habis bakso di mangkuknya. Begitu pun dengan diriku. Keadaan ini sedikit menggangguku. Aku ingin berkata lebih pada Roa, tapi aku sendiri tidak begitu yakin dengan kemampuanku dalam berkata-kata. Ya, aku tidak memiliki charmspeak seperti Ros. Tidak juga kata-kata bijak.

“Ros, terima kasih traktirannya.” Kataku ketika kami berjalab menuju kelas.

Roa mengangguk. “Sama-sama Baso. Nanti saya duduk di dekatmu lagi kalau pelajarannya Pak Herman berlangsung nah. Dan mungkin…”

“Mungkin?”

“Baso, mungkin saya bakal lebih banyak berkeluh kesah padamu. Tidak apa-apa?”

Aku terhenyak. Langkahku terhenti seketika. Ros ikut terhenti, dia menoleh kepadaku dengan penuh permohonan. Sihirnya kembali bekerja. Melihatnya seperti itu membuatku enggan untuk menolak permintaannya. Sehingga, mau tak mau, aku berkata iya sembari mengangguk.

Rosemary. Gadis itu tersenyum penuh. Mengembalikan raut wajah yang semula penuh kebimbangan menjadi raut percaya diri seperti biasa. Aku menghela napas pelan, bingung ingin mengkategorikan yang mana kejadian kali ini. Tapi, ya sudahlah. Aku sudah terlanjur mengiyakan. Dan bagaimana pun itu aku pasti akan memenuhi permintaannya. Permintaan Rosemary, si ratu kelas.

END

Ka : saya
Ko/ki : kamu
Ki : kita

Yang lainnya berupa particle alias tidak memiliki arti seperti mi, ji, na, me, dll.

Terima kasih untuk Percy Jackson, Piper, Annabeth, Hazel, Frank, Leo, Jason, dan Aphrodite atas idenya. Terima kasih untuk Rosemary, anak The Giver yang mati karena bunuh diri. Terima kasih otak yang akhirnya mampu mengeluarkan imajinya. Terima kasih jari-jari yang semula malas meladeni papan tombol. Terima kasih sel-sel tubuh yang mau menemani jiwa ini tidur di atas jam 10 malam hanya karena kisah tak begitu jelas ini. Terima kasih Kata Kerja yang mampu melahirkan keinginan untuk bergerak menemuimu di sela waktu dan jarak yang sulit diajak kompromi. Terima kasih pembaca blog. Terima kasih semuanya. Alhamdulillah.

One thought on “Rosemary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s