Masih Kecil

Bukan mencari gara-gara, tetapi hanya memastikan. Dan kepastian itu memberikan saya satu jawaban telak. Tidak.

Pelaku yang membuat satu buah permen karet melekat di otak saya, telah saya temui sejak beberapa minggu yang lalu. Saya belum membayar janji saya, tetapi saya hanya ingin memastikan apakah saya benar-benar menyukainya atau tidak. Jawaban saya pada saat itu hanya satu kata. Tidak.

Kemudian, kami berjumpa lagi. Perasaan saya lebih rileks dari biasanya. Pikiran saya lebih positif sehingga rasa takut dikecewakan tiada lagi dalam benak. Saya pikir sudah saatnya saya melihat yang lebih realistis, hubungan yang sempat saya dambakan tidak akan memberikan saya manfaat berarti. Tidak ada simbiosis mutualisme, yang berarti saya tidak perlu bersusah-payah mencurahkan benak dan hati saya pada hal itu.

Dan… terjadi lagi. Meski kali ini bukan tangan saya yang digenggamnya erat. Hanya usapan pada puncak kepala. Ya, hal kecil itu. Pada saat yang sama otak saya segera bertindak rasional. Saya tidak perlu bawa perasaan akan kelakuannya. Ion-ion positif dalam sel otak saya segera merespon.

Mungkin karena ia senang dengan saya yang sudah dianggapnya sebagai saudara.

Karena setelah itu kami masih saling melihat, berbincang. Dia berkata bahwa diri saya adalah sebuah potret seorang anak kecil. Keras kepala. Kekanak-kanakan.

Oh. Mungkin saya tidak lebih seorang adik baginya. Adik kecil yang keras kepala dan aneh. Karena, ya, dirinya memang benar. Saya masih kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s